Tak jarang masjid-masjid di Indonesia, berbentuk menyerupai candi atau klenteng. Seni arsitektur masjid juga dipengaruhi oleh bahan baku yang tersedia saat itu, yaitu batu, bata, atau tanah liat.
Masjid As-Syakirin
Masjid As-Syakirin memiliki letak di antara permukiman penduduk. Secara adminstratif terletak di Jalan Raya Deli Tua, Kampung Deli Tua, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Belum banyak informasi yang didapat mengenai sejarah masjid ini. Akan tetapi, berdasarkan penuturan masyarakat setempat masjid ini dibangun sekitar tahun 1819 dan merupakan bagian dari peninggalan Sultan Deli. Perawatan dan pengelolaan masjid dilakukan oleh keturunan Sultan Deli dan masyarakat sekitar masjid.
Pada tahun 1992, masyarakat melakukan swadaya untuk melakukan pemugaran masjid. Bangunannya memiliki luas 20 x 22 meter dengan denah persegi panjang. Pintu masuk masjid berada di sebelah selatan. Sekitar masjid terdapat halaman yang sekelilingnya dipagar besi. Selain halaman, Masjid as-Syakirin juga memiliki serambi, ruang utama untuk sholat, menara, dan tempat wudhu.
Masjid Raya Al Osmani
Masjid Raya Al Osmani terletak di Jl. Yos Sudarso Km 17,5, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan. Keberadaan Mesjid Raya Al Osmani tidak dapat dipisahkan dari eksistensi Kesultanan Deli yang masih bertahan sampai sekarang. Masjid Al Osmani juga disebut Masjid Raya Labuhan ini dibangun pada tahun 1854. Pembangunan masjid ini digagas oleh Sultan Deli VII Osman Perkasa Alam, seorang Sultan yang sangat dihormati oleh rakyatnya pada masanya.
Bangunan masjid ini pada awalnya terbuat dari kayu berkualitas. Hal ini tertuang di dalam prasasti berwarna hitam yang melekat di dinding masjid. Tertulis bahwa pada waktu pembangunannya menggunakan kayu-kayu pilihan yang terbaik. Namun sayangnya, tidak dituliskna jenis kayu apa yang dipergunakan.
Tepat di depan masjid ini dahulu istana Kesultanan Deli pertama dibangun, untuk memudahkan Sultan menuju ke masjid untuk beribadah. Sultan hanya perlu berjalan kaki sebentar untuk mencapai masjid tersebut. Namun, bekas-bekas kemegahan istana tersebut saat ini sudah rata dengan tanah, dan berganti menjadi bangunan sekolah dasar. Sementara halaman belakang masjid tersebut merupakan tempat pemakaman Sultan Osman Perkasa Alam yang telah wafat pada tahun 1858.
Pada saat pembangunannya pertama kali, bangunan masjid Al Osmani hanya berukuran 16 x 16 meter dengan material utama kayu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Dahulu, masjid ini difungsikan sebagai tempat sultan melaksanakan ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya. Namun seiring dengan perkembangan waktu dan perubahan zaman, masjid ini pun mengalami transformasi, sampai pemugaran besar-besaran dalam beberapa tahap dan pada beberapa masa yang berbeda-beda.
Masjid Raya Rantau Panjang (*)
Masjid Raya Sultan Basyaruddin atau dikenal dengan sebutan Masjid Raya Rantau Panjang terletak di Desa Rantau Panjang Kecamatan Pantai Labu. Bangun masjid layak menjadi situs sejarah, dibangun pada tahun 1854 M oleh Sultan Serdang ke IV, Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah yang merupakan kewaziran Sultan Aceh.
Masjid Raya Nur Addin (*)
Masjid Raya Tebing Tinggi yang kini sudah berganti nama menjadi Masjid Nur Addin adalah masjid tertua di Kota Tebingtinggi. Masjid ini terletak di jantung kota, tepatnya di Jalan Suprapto Kota Tebingtinggi. Masjid Raya Nur Addin ini sehari-hari dipakai untuk beribadah umat muslim di Kota Tebingtinggi dan kegiatan syiar-syiar agama Islam.
Masjid Raya ini berdiri sekitar 1861 yang didirikan Raja Negeri Padang (Tebingtinggi) Tengku Haji Muhammad Nurdin dan juga sekaligus beliaulah sang pendiri Kota Tebingtinggi. Beliau meninggal pada 1914 dan lahir di tanah Tebingtinggi yang dulunya kerajaan Padang sekitar tahun 1836.
Masjid Jamik Ismailiyah
Masjid Jami' Ismailiyah terletak di Desa Beringin, Kecamatan Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Sebelah utara masjid berbatasan dengan Sungai Bedagai dan rumah penduduk, sebelah timur dengan jalan besar, sebelah selatan dengan kebun rakyat serta bekas kerajaan Negeri Bedagai, dan sebelah barat dengan kebun rakyat. Adapun bekas kerajaan yang masih terlihat adalah struktur bata merah serta tanah lapang yang luas. Masjid yang merupakan masjid kerajaan ini berdiri di atas lantai bata yang ditata rapi, luas tanah sekitar 900m2, dan dibangun dua lantai dengan pagar tembok dan besi di sekililingnya.
Kepemilikan dan pengelolan masjid diatur oleh keturunan Sultan Bedagai, dimana sampai saat ini fisik dan fungsinya masih terjaga. Menurut ahli waris Sultan Bedagai, masjid dibangun pada tahun 1882. Pemugaran dilakukan pada tahun 1937, yakni penggantian atap yang semula dari genteng menjadi seng, meninggikan posisinya melebihi bangunan istana yang masih berdiri pada waktu itu, dan kubahnya diganti dengan yang lebih besar. Kemudian pada tahun 1982 dilakukan pemugaran kedua dengan mengganti lantai bagian dalam masjid dari tegel menjadi keramik dan dilakukan pembangunan menara. Bentuk asli masjid masih terlihat pada pagar tembok yang bergelombang di bagian atasnya dan memiliki dua tiang sebagai penyangga atap. Bangunan masjid ini terdiri dari serambi, ruang utama, menara, tempat wudhu, dan makam.
Masjid Raya Sultan Ahmadsyah
Bangunan Masjid Raya Sultan Ahmadsyah merupakan salah satu masjid tertua di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara. Masjid itu dibangun pada tahun 1886 di lahan seluas 1 hektare milik Kesultanan Melayu Asahan.
Masjid Raya Bandar Khalifah
Masjid Raya Bandar Khalifah terletak di pinggir Jalan Bandar Khalifah dan secara administratif masuk ke dalam Desa Gelam, Kecamatan Banda, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Masjid ini berdiri di antara permukiman penduduk yang mayoritas bermata pencaharian petani. Berdasarkan informasi dari masyarakat, masjid dibangun sekitar tahun 1890 oleh Tengku Haji Nurdin yang bergelar Maharaja Muda Wazir Negeri Deli. Gelar tersebut merupakan pemberian Sultan Deli, dimana Tengku Haji Nurdin merupakan generasi kedelapan dari kerajaan Negeri Padang yang berpusat di Bandar Khalifah.
Masjid Lama Gang Bengkok

Masjid Sulaimaniyah
Masjid Azizi
Pada awalnya, pembangunan Masjid Azizi dilaksanakan atas saran Syekh Abdul Wahab Babussalam pada masa pemerintahan Sultan Langkat Haji Musa, yakni pada tahun 1899. Akan tetapi, Haji Musa meninggal pada saat masjid masih dalam proses pembangunan. Sehingga pembangunan masjid dilanjutkan oleh puteranya, Sultan Abdul Azizi Abdul Jalil Rahmad Syah. Oleh karena itu, nama ‘Azizi’ berasal dari nama putera Sultan Haji Musa yang menyelesaikan pembangunan masjid pada tahun 1902.
No comments: