Terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat
Koordinat GPS : 6° 59' 31.32" S, 110° 3' 21.78" E
Setiap teras mempunyai pola-pola bangunan batu yang berbeda-beda yang ditujukan untuk berbagai fungsi. Teras pertama merupakan teras terluas dengan jumlah batuan paling banyak, teras kedua berkurang jumlah batunya, teras ke-3 sampai ke-5 merupakan teras-teras yang jumlah batuannya tidak banyak.
Luas area ini secara keseluruhan dilaporkan sekitar tiga hektare (30.000 m2) dengan luas total lima teras 3132 m2 sehingga di beberapa publikasi internet dinyatakan sebagai situs megalitikum terluas di Asia Tenggara.
Situs ini kemudian dilaporkan kembali keberadaannya pada tahun 1979 oleh penduduk setempat kepada penilik kebudayaan dari pemerintah daerah. Sejak itu, situs ini telah diteliti cukup mendalam meskipun masih menyisakan berbagai kontroversi.
Para ahli purbakala atau yang meminati kepurbakalaan telah melakukan berbagai penelitian atas situs ini. Sebagian besar hasil penelitiannya tidak bisa diakses dengan mudah oleh umum, hanya tersimpan sebagai publikasi ilmiah profesional.
Beberapa lembaga yang pernah melakukan penelitian di sini adalah: Direktorat Sejarah dan Purbakala, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Balai Arkeologi Bandung dan sebuah lembaga swasta Bandung Fe Institute.
Pengukuran frekuensi nada dan perhitungan matematika yang dilakukan mereka menemukan bahwa bilah-bilah batu yang diperuntukkan sebagai alat musik ini dapat mengeluarkan nada dengan frekuensi di antara 2600-5200 kHz yang selaras dengan nada f’’’, g’’’, d’’’, a’’’ (‘’’ – menunjukkan tiga oktaf).
Penulis dan seorang rekan geologist mencoba memukul-mukul tiga bilah batu yang telah dipetakan oleh Dahlan dan Situngkir (2008) sebagai batu musik, dan memang ketiga bilah batu ini mengeluarkan nada dengan dentingan (pitch) yang tinggi. Bilah-bilah batu ini memang diperuntukkan sebagai alat musik, terbukti bahwa mereka ditahan di atas tanah dan bagian bawah batuannya dibuat lumpang untuk menambah ruangan gema.
Penelitian mengenai Situs Gunung Padang dilakukan sejak November 2011. Setelah diteliti selama hampir dua tahun hingga sekarang, diketahui bahwa Situs Gunung Padang bukanlah sebuah situs yang sederhana, melainkan sebuah monumen yang sangat besar. Situs ini diperkirakan luasnya mencapai 10 kali luas Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Susunan batu tersebut mirip dengan teknologi Situs Machu Pichu di Peru. Menurut Danny, yang lebih mengejutkan dari penemuan Situs Gunung Padang ini yaitu umur susunan batu yang berbeda-beda dari setiap lapisannya.
Lapisan teratas berumur lebih muda, yaitu 500 tahun Sebelum Masehi, ada pula lapisan yang berumur 7.000 tahun Sebelum Masehi. Bahkan, jika dihitung hingga lapisan terbawah, Situs Gunung Padang diperkirakan usianya sekitar 13 ribu tahun.
No comments: