Setelah Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755, wilayah Mataram dibagi menjadi dua wilayah, Mataram Timur, Kasunanan dan Kadipaten Mangkunegaran dan Mataram Barat (Mataram Asli), Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman.
Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan. (sumber: jogjakota.go.id)
Akan dibagi menjadi 2 :
1. Peninggalan
a). Kerajaan Mataram Islam
b). Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
c). Kadipaten Pakualaman
d). Belanda dan Jepang
2. Museum
1.a. Peninggalan Kerajaan Mataram Islam
A. Kota GedeSitus Kedaton Mataram
Jl. Watu Gilang, Kotagede, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 49' 39.04" S, 110° 23' 39.7" E
Masjid Kotagede
Jl. Watu Gilang, Kotagede, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 49' 45.7" S, 110° 23' 52.5" E
Merupakan masjid tertua di Yogyakarta. Desain masjid ini tampak sederhana namun siapa yang mengira jika tempat ibadah umat Islam tersebut sudah berdiri sejak tahun 1640an.
Makam Raja-Raja Mataram
Jl. Watu Gilang, Kotagede, Yogyakarta
Koordinat GPS:
Selain Panembahan Senopati, tokoh lainnya yang dimakamkan di sini adalah Sultan Hadiwijaya dan Ki Gede Pemanahan.
Situs Selo Gilang
Dusun Janggan, Gilangharjo, Pandak Bantul, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 55' 17.83" S, 110° 18' 34.24" E
B. Plered
Bekas Keraton Plered (eksavasi)
Dusun Kerto, Desa Pleret, Kecamatan Pleret Bantul, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 52' 15" S, 110° 24' 25" E
Dari sini (Plered), Kerajaan Mataram Islam dipindahkan ke Kartasura, dan akhirnya di Kota Surakarta sampai sekarang ini.
Koordinat GPS : 7° 49' 39.5" S, 110° 21' 37.9" E
Raden Mas Jolang yang bergelar Prabu Hanyokrowati, raja kedua Kerajaan Mataram Islam dan putra Panembahan Senopati, adalah salah satu raja yang memanfaatkan Hutan Krapyak sebagai tempat berburu. Pada tahun 1613, beliau mengalami kecelakaan dalam perburuannya hingga akhirnya Prabu Hanyokrowati meninggal dunia. Prabu Hanyokrowati akhirnya dimakamkan di Kotagede yang kemudian akhirnya diberi gelar Panembahan Seda Krapyak (berarti raja yang meninggal di Hutan Krapyak).
Selain Prabu Hanyokrowati, raja lain yang gemar berburu di Hutan Krapyak adalah Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I). Beliau-lah yang mendirikan Panggung Krapyak lebih dari 140 tahun setelah wafatnya Prabu Hanyokrowati di hutan ini. Panggung Krapyak ini merupakan petunjuk sejarah bahwa wilayah Krapyak pernah dijadikan sebagai area berburu oleh para raja Mataram.
1.b. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
Pesanggrahan Ambarketawang
Desa Ambarketawng, Gamping, Sleman, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 47' 41.45" S, 110° 19' 33.79" E
Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.
Sumber: jogjakota.go.id
Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
Alun-alun Utara, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 47' 4.09" S, 110° 21' 42.01" E
Tugu Yogyakarta
Jalan Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 46' 56.45" S, 110° 22' 1.34" E
Taman Sari
Jalan Taman, Kraton, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 48' 36.4" S, 110° 21' 34.2" E
Untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena telah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan Demak Tegis seorang arsitek berkebangsaan Portugis dan Bupati Madiun sebagai mandor untuk membangun sebuah istana di umbul yang terletak 500 meter selatan keraton. Istana yang dikelilingi segaran (danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan di sekitarnya itu sekarang dikenal dengan nama Taman Sari.
Pesanggrahan Warungboto dan Pesona Taman Air
Jalan Veteran, Warungboto, Umbulharjo Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 48' 37.2" S, 110° 23' 35.2" E
Yogyakarta banyak menyimpan sejarah di masa lalu, salah satunya sebuah situs kuno yang merupakan pesanggrahan yang memiliki pesona taman air. Bangunan Pesanggrahan Warungboto dan Istana Taman Air ini cukup bersejarah karena merupakan salah satu pesanggrahan yang dibangun oleh Hamengku Buwono II, yang dibuktikan melalui nama bangunan dalam sebuah tembang macapat yang berkisah tentang Hamengku Buwono II. Dalam tembang tersebut, bangunan ini tidak disebut dengan nama Pesanggrahan Warungboto, tetapi Pesanggrahan Rejowinangun. Pesanggrahan ini dibangun tahun 1800-an dengan sebuah rancangan taman beserta kolam yang sifatnya pribadi, dikelilingi oleh bangunan sehingga tak terlihat dari luar.
Sasana Wiratama
Jl. HOS Cokroaminoto TR III/430, Yogyakarta
Telp. (0274) 622 668
Koordinat GPS: 7° 47' 12.7" S, 110° 21' 5" E
Terletak sekitar 4 kilometer dari pusat kota Jogja, tanah seluas 2,5 hektar yang awalnya dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, diserahkan oleh ahli waris Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Kanjangteng Diponegoro, untuk dijadikan Monumen setelah menandatangani surat penyerahan bersama Nyi Hadjar Dewantara dan Kanjeng Raden Tumenggung Purejodiningrat. Di atas tanah yang kini menjadi milik Kraton Yogyakarta itu mulai pertengahan tahun 1968 hingga 19 agustus 1969 dibangun sebuah monumen pada bangunan pringgitan yang menyatu dengan pendopo tepat di tengah komplek yang diprakarsai oleh Mayjen Surono yang saat itu menjabat Panglima Kodam (PANGDAM) serta diresmikan oleh Presiden Suharto. Tempat ini kemudian dinamakan Sasana Wiratama yang artinya tempat prajurit.
Lahir di Kraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785, bernama kecil Bandoro Raden Mas Ontowiryo dan setelah dewasa bergelar Kanjeng Pangeran Diponegoro merupakan putra sulung Raden Ayu Mangkorowati (putri Bupati Pacitan) selir dari Sri Sultan Hamengku Buwono III (HB III).
Dari luar tembok terdengar letusan senjata tiga kali, perang telah dimulai. Sisi utara, timur dan selatan telah dikepung pasukan Belanda. Laskar yang tinggal di sisi barat melakukan perlawanan keras. Di bawah pimpinan Joyomustopo dan Joyoprawiro, laskar terdesak mundur. Kekuatan berbeda jauh. Seorang pria berjubah putih dengan sorban putih yang terlilit di kepalanya, dengan tenang dan bijaksana memilih menjebol tembok barat puri. Dengan beberapa kali gebrakan tembok itu jebol. Satu komando untuk menyelamatkan keluarga dan laskar yang tersisa. Dengan seluruh pasukannya, pria berjubah putih itu lebih memilih menjauh ke barat. Sebuah keputusan berat demi keselamatan keluarga dan laskarnya. "Perang sesungguhnya baru saja akan dimulai" batinnya dalam hati.
Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul.
Sumber: yogyes.com
No comments: