PESONA WISATA INDONESIA

welcome to our blog



in a way, articles can also be described as a type of adjectives as they also tell us something about the nouns, like adjectives.

Articles are found in many Indo-European, Semitic, and Polynesian languages but formally are absent from some large languages of the world, such as Indonesian, Japanese, Hindi and Russian.

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

    Posted by: guru ppkn cerdas Posted date: February 18, 2014 / comment : 0

    Oleh Joko Widodo

    (https://jogjatrip.com)

    Solo (ANTARA News) - Menurut onomastika atau ilmu yang mempelajari nama-nama diri, nama merupakan produk masyarakat yang mampu menjelaskan berbagai hal tentang masyarakat.

    "Inilah tekanan penting dari kajian nama diri," kata Prof Sahid Teguh Widodo M.Hum, Ph.D, yang akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Etnolinguistik Bidang Onomastika Pada Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret pada 25 Februari 2014.

    Prof Sahid pada Senin menjelaskan bahwa kajian nama diri tidak hanya menyentuh ide-ide yang abstrak namun juga bersinggungan dengan makna kontekstual berdasarkan simbol-simbol yang diyakini mampu menjelaskan ide-ide tersebut.

    Nama seseorang merupakan identitas diri yang mempunyai pengaruh dalam kehidupannya. Penyandang nama-nama yang digemari secara sosial akan menjadi lebih popular dan lebih mudah menyesuaikan diri, jelas dia.

    Dia mencontohkan, dalam tradisi budaya Jawa nama diri berkaitan dengan aspek-aspek seperti waktu, tempat, suasana atau peristiwa, tujuan, harapan, doa, status sosial, sejarah dan tradisi lain yang khas.

    Bahkan muncul kepercayaan, nama berkaitan dengan panjang atau pendek umur seseorang, tambah dia.

    Perkembangan Onomastika

    Prof Sahid menjelaskan, jika dibandingkan dengan bidang-bidang ilmu bahasa yang lain, saat ini ilmu onomastika belum begitu berkembang di Indonesia.

    Bahkan, menurut dia, muncul anggapan bahwa onomastika adalah bidang ilmu yang sempit, kering dan kurang diminati karena selalu dipandang dari perspektif tunggal.

    Akibatnya, lanjut dia, penelitian tentang nama terjerumus ke dalam medan yang tidak memberi pilihan terhadap sudut pandang yang lain.

    "Kajian nama diri seharusnya dilakukan dengan perspektif yang lebih luas. Selain aspek kebahasan, konteks nama turut juga menentukan bentuk, struktur, dan makna nama," jelasnya.

    Sumber: AntaraNews

    Tagged with:

    Next
    Newer Post
    Previous
    Older Post

    No comments:

    Leave a Reply

Comments

The Visitors says