PESONA WISATA INDONESIA

welcome to our blog



in a way, articles can also be described as a type of adjectives as they also tell us something about the nouns, like adjectives.

Articles are found in many Indo-European, Semitic, and Polynesian languages but formally are absent from some large languages of the world, such as Indonesian, Japanese, Hindi and Russian.

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

  • Masjid Lempur Tengah atau Masjid Lamo (https://18foto-foto-foto.blogspot.co.id) 

    Masjid Kuno Lempur Tengah atau Masjid Lamo terletak di Desa Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi, dengan luas lahan 207 m2 dan luas bangunan 144 m2.

    Sejarah


    Masjid Lamo, kapan berdirinya tidak diketahui secara pasti, menurut dua nara umber sebagai berikut:

    Sulaiman, sesepuh dan Thalib Duko, selaku juru pelihara Masjid Lamo ini tidak berani memastikan kapan Masjid Lamo ini dibangun. Ia hanya mengungkapkan, sejarah Masjid Lamo ini diawali dengan menghadapnya Rajo Elok bergelar Indra Bangsawan Syah dari Bone Gunung Ledang (tidak diketahui di mana Bone Gunung Ledang tersebut) dengan membawa sepucuk surat menuju Kerajaan Pagaruyung di daerah Minangkabau.

    Sulaiman menuturkan, surat jalan yang dibawa Raji Elok itu ditulis dengan huruf Arab. Itu menunjukkan bahwa Islam sudah berkembang di Sumatra, karena surat jalan ini dibuat sekitar tahun 1700 M. Sedangkan, agama Islam masuk ke Nusantara abad ke-13. Surat jalan itu cukup panjang. Pada zaman itu, surat ini digunakan untuk berkhotbah bagi para khatib atau ulama, guna penyebaran Islam ke seluruh wilayah Nusantara.

    Menurut Anton, seorang arkeolog dari Universitas Indonesia (UI) yang sedang melakukan penelitian di daerah ini, mengemukakan pendapatnya bahwa Masjid Lamo ini dibangun sekitar akhir abad ke-15 M. Pendapat itu didasarkan pada bentuk Masjid Lamo yang menyerupai arsitektur masjid kuno yang ada di Jawa, bercorak Hindu dengan atap limasnya.

    Jadi perkirakan berdirinya Masjid Lamo antara akhir abad 15 dan akhir abad 17 M, lebih tua dari Masjid Keramat di Kabupaten Kerinci serta merupakan masjid tertua di Propinsi Jambi.

    Masjid Kuno Lempur Mudik sejak tahun 1931 sudah tidak difungsikan dan digantikan dengan masjid baru yang lebih besar dan luas.

    Arsitektur

    Masjid Lamo ini memang unik, memiliki kubah berbentuk stupa dari batu, mirip stupa candi tanpa bulan bintang seperti lazimnya kubah masjid masa kini. Stupa itu tingginya sekitar satu meter dan beratnya sekitar 80 kg. Namun, puncak stupanya pemah mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang amat dahsyat yang terjadi selama tiga hari pada tahun 1942, kemudian puncak stupanya diganti dengan bulan bintang. Selain itu bentuk Masjid Lamo yang menyerupai arsitektur masjid kuno yang ada di Jawa, bercorak Hindu dengan atap limasnya.

    Diskripsi

    Bangunan masjid berdenah bujur sangkar dengan ukuran 12 m x 12 m. Fondasinya terbuat dari batu kali yang bentuknya mirip batubata, namun amat keras. Dahulu bangunan masjid berupa bangunan panggung, tetapi sekarang pada bagian kolongnya sudah ditutup dinding bata. Pada awalnya, bangunan ini keseluruhannya terbuat dari kayu-kayu pilihan nan kokoh dan beratapkan ijuk namun seiring perkembangan zaman masjid ini telah diubah dengan menggunakan lantai semen dan beratapkan seng.

    Atap

    Atap dari ruang utama (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

    Masjid Kuno Lempur Mudik memiliki atap bertingkat berupa tumpang dua dengan bagian atas berupa bulan sabit dan bintang. Masjid Lamo ini mulanya beratap ijuk dan lapen ‘kayu’. Namun, pada tahun 1939 diganti dengan atap seng seperti sekarang ini. Atap tersebut ditopang oleh 12 tiang kayu berbentuk segi delapan. Empat buah tiang saka guru berpahat motif tumpal, sulur-suluran, dan tali, sedang delapan buah tiang saka rawa.

    Ukiran dibawah atap (https://djangki.wordpress.com)

    Dinding

    Ukiran pada dinding (https://www.retcia.com)

    Ukiran yang ada pada dinding masjid tampak antik. Motifnya berelung-elung berbentuk motif flora, tali, medalion, dan baluster, tidak dipengaruhi motif ukiran lain. Sedangkan, warna ukirannya irteng menggunakan campuran bahan baku alami, yaitu kunyit dan kapur. Ukiran ini merupakan hasil seni pahat khas masyarakat Kerinci, dan yang sangat mengesankan yaitu ukiran terawangan sulur gelung yang ditempatkan pada keempat sudut dinding bangunan. Dinding masjid masih tampak kokoh, karena pakunya terbuat dari kayu yang berbentuk paku (sepaku).

    Ukiran di sudut dinding (https://djangki.wordpress.com)

    Ruang Utama

    Pada ruang utama masjid terdapat 16 tiang kayu utama (saka guru) yang kuat dengan diameter sekitar 75 cm serta 12 buah tiang bantu (saka rawa) dengan diameter sekitar 60 cm untuk menyangga atap. Secara keseluruhan, tiang ini berbentuk segi delapan dan berhias sulur-sulur. Dinding masjid terbuat dari bahan kayu. Pada dinding terdapat boluster yang berjajar, berfungsi sebagai ventilasi.

    Pintu masuk berada di sebelah timur dan dilengkapi dengan tangga dan pipi tangga di kedua sisinya. Di atas pintu diberi dua hiasan berupa dua wajah yang distilir bentuk suluran.

    Mihrab dan Mimbar

    Di ruang utama terdapat tiang berbentuk segi delapan. Di dalam masjid terdapat mihrab, mimbar, dan magsuro yang sudah fragmentaris. Pada mihrabnya tertulis huruf Arab berwama merah, namun tidak diketahui siapa yang menulisnya serta tahun berapa penulisan itu dilakukan. Bahkan, tidak diketahui apakah tulisan itu masih baru atau sudah lama.

    Tempat Muadzin

    Tempat muadzin mengumandangkan adzan di setiap masuknya waktu shalat berupa sebuah panggung kecil yang diletakkan menempel pada sebuah tiang utama.

    Bedug dan halaman

    Namun, di sana Anda juga akan temukan sebuah beduk tua berukuran kecil, yang usianya diperkirakan sama dengan usia Masjid Lamo ini. Halaman Masjid tampak asri dan tertata rapi. Namun amat disayangkan, masjid ini sepi dari siar dakwah Islam. Sebuah tantangan bagi kaum muslimin Kerinci.
  • Masjid Keramat Koto Tuo Kerinci Jambi (https://kerinci.kemenag.go.id)

    Masjid Keramat Koto Tuo Pulau Tengah terletak di Dusun Koto Tuo, Desa Pulau Tengah, Kecamatan Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi, dengan luas lahan 2.650 m2 dan luas bangunan 729 m2.

    Sejarah

    Masjid Keramat Koto Tuo Kerinci Jambi (https://www.kaskus.co.id)

    Pada abad ke-16 agama Islam masuk ke Kerinci yang dibawa oleh para pedagang. Pada periode berikutnya telah datang ke daerah Kerinci itu para mubaligh mengembangkan dan mengajarkan agama baru itu secara mendalam. Oleh orang-orang tua, mereka itu dikenal dengan gelar siak, seperti Siak Lngaih (Siak Lengis), Siak Jle (Siak Jelir), Siak Sati dan sebagainya. Bagaimanapun juga, agama Islam telah mendapatkan tanah yang subur untuk pertumbuhan dan perkembangan di negeri Pulau Tengah, sehingga negeri ini telah menjadi pusat kegiatan agama Islam di Kerinci.

    Perkembangan pesat itu dimulai ketika seorang ulama putra Pulau Tengah, yang oleh orang-orang tua dikenal dengan nama Syekh pada tahun 1697 kembali dari menuntut ilmu di tanah Jawa (Mataram). Adapaun ulama-ulama yang terkenal di negeri Pulau Tengah itu setelah Syech, adalah Tengku Baruke, Haji Rateh dan Haji Raha. Ketiga ulama tersebut adalah putra syech sendiri, hidup abad 18. dari abad ke 19 adalah Haji Saleh, Haji Rauf dan Haji Ismail (abad 19 dan 20).

    Bentuk Masjid pertama yang ada di Koto Tuo Pulau Tengah sederhana saja. Denahnya empat persegi dengan ukuran 12x12 depa, berlantai papan, tiangnya terbuat dari balok-balok kayu dengan dinding pelupuh, atapnya dari ijuk agak meruncing ke atas dengan kemuncuk dari batu berpahat, demikian masjid pertama itu pertama itulebih tepat kalau dinamakan surau.

    Sejak kembali dari Mataram (Jawa) tahun 1679, Syech sang ulama Pulau Tengah itu sering menceritakan bentuk Masjid Demak yang dikaguminya, kepada teman-temannya, anak-anaknya, para santri, dan kepada para pemuka masyarakat.

    Masjid Keramat Koto Tuo Kerinci Jambi (https://www.yukpegi.com)

    Para pemuka masyarakat yang terdiri dari Depati Ninik Mamak, Orang Tua, Cerdik Pandai dan Alim Ulama, berkumpul mengadakan pertemuan yang bertempat di dalam masjid lama (surau). Rapat yang diadakan pada malam Jum’at minggu kedua bulan Syawaltahun masehi 1779 itu telah mengambil keputusan sebagai berikut:

    a. Akan membangun masjid yang besar
    b. Menunjuk Tengku Baruke untuk rencana atau gambar (maket) masjid baru yang akan dibangun. Untuk itu ia akan diutus ke Demak untuk menyaksikan atau melihat sendiri Masjid Demak yang termasyhur itu
    c. Menunjuk panitia/pengurus pelaksana pembangunan dengan anggota-anggotanya : Kali Rajei, haji Raha, Haji Rateh, Sidi, Lebai Usai, dan Nenek Shalehah.

    Pekerjaan menebang dan membawa kayu ke lokasi pembangunan dimulai pada hari Senin, minggu kedua bulan Rabiul Awal tahun 1780. Kayu-kayu yang dipilih adalah jenis pohon-pohon besar yang kayunya berkualitas baik, keras lagi tahan lama seperti medang penjahit, medang lutung, medang hijau, medang kuning, semulun dan lain sebagainya.

    Begitulah dengan semangat gotong-royong, akhirnya pekerjaan pembangunan masjid yang agung itu dapat diselesaikan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun, hingga upacara peresmian Masjid Keramat yang diadakan pada hari Jum’at tahum 1785 itu.

    Masjid Keramat

    Dinamai Masjid Keramat karena masjid ini dalam riwayatnya selalu terhindar dari bencana yang terjadi di desa itu, antara lain kebakaran hebat pada tahun 1903 dan 1939. Juga gempa bumi dahsyat yang terjadi pada tahun 1942, tidak berpengaruh apa-apa terhadap masjid itu. Oleh karenanya, dapat dipahami jika masyarakat di desa itu menamai masjid tua ini dengan nama Masjid Keramat.

    Diskripsi

    Masjid Keramat itu terdiri atas tiga bagian, yaitu Beranda, Bangunan Induk, dan Lapangan. Disamping itu di sudut tenggara masjid terdapat sebuah jembatan kayu, yang sesungguhnya merupakan bagian dari masjid juga.

    Semua bagian Masjid keramat itu dibuat sedemikian rupa sehingga tidak satu pakupun yang digunakan pada persambungannya, baik paku kayu apalagi paku besi.

    A. Beranda dan Menara

    Beranda dan Menara (https://dananwahyu.wordpress.com)

    Bangunan beranda dengan menaranya di sebelah timur, baru dibangun tahun 1933, bangunan tersebut telah mengalami 2 kali penggantian, dan yang ada sekarang ialah pengganti bangunan semen yang hancur akibat gempa besar tahun 1995. bangunan yang terakhir itu walaupun meniru aslinya, namun banyak pula perbedaannya dan tidak seindah bagunan tahun 1933. Dalam pada itu kalau dahulu tempat berwudlu adalah di sungai, saat ini masjid tersebut telah memiliki tempat berwudlu dan wc khusus. Bangunan beranda dihiasi dengan keramik berpola gambar bunga-bungaan dengan aneka warna. Fungsi bagian yang tinggi pada beranda tersebut bermacam-macam. Salah satu yang sangat penting adalah sebagai tempat bercengkerama atau saling bertukar pikiran/informasi bagi para pemuka masyarakat dan penduduk.

    Beranda (https://www.kaskus.co.id)

    B. Bangunan Induk

    Bentuk asli Masjid Keramat itu semula terdiri dari bangunan induk saja, dengan denah bujur sangkar. Masjid ini memiliki sebuah tiang utama (sokoguru) yang menopang atap tumpang ketiga, 4 buah tiang di tengah ruangan dan 20 buah tiang pinggir, yang semuanya berfungsi menopang atap masjid.

    1. Lantai

    Denah Masjid Keramat juga empat persegi dengan ukuran 28 x 28 meter. Lantai asli terbuat dari papan tebal, dimana di bawahnya terdapat ruangan kosong yang dalamnya kira-kira satu meter untuk bersembunyi di kala ada bahaya yang datang. Penimbunan ruangan yang kosong di bawah lantai itu dilakukan sewaktu lantai diganti dengan semen pada tahun 1929 yang dilakukan oleh penduduk dengan gotong-royong pula. Lantai semen tersebut polos saja tanpa ada hiasan atau penggunaan keramik.

    2. Tiang

    Salah satu tiang (https://www.kaskus.co.id)

    Jumlah tiang masjid keseluruhan berjumlah 25 buah terdiri 20 buah tiang pinggir dan 5 buah tiang yang ada dalam ruangan termasuk tiang tengah (sokoguru), itu sengaja dibuat demikian, untuk menggambarkan Rasul Allah yang 25 orang, sedangkan 5 buah tiang dalam ruangan menggambarkan Rukun Islam yang lima. Dalam pada itu, tiang tengah (sokoguru) yang besar dan tinggi di tengah-tengah ruangan merupakan perlambang dari nabi Besar Muhammad SAW. Sementara itu empat buah tiang lainnya di tengah ruangan merupakan lambang dari empat orang sahabat Nabi yaitu Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.

    Tiang Tengah atau sokoguru berfungsi sebagai penunjang bangunan keseluruhan disamping. Berfungsi pula untuk menopang atap tumpang ketiga (di atas sekali). Empat buah tiang di tengah ruangan menopang atap tumpang kedua dan 20 buah tiang pinggir berfungsi menopang atap tumpang pertama (di bawah sekali).

    Sokoguru atau Tiang di tengah (https://www.kaskus.co.id)

    Karena kayu bagian bawah tiang tengah (sokoguru) masjid telah mengalami kerusakan (lapuk), maka tiang tersebut telah dibalut dengan semen pada tahun 1929.

    Tiang-tiang tingginya kira-kira 2,13 m, dengan keliling 2,12 m yang berarti sisinya yang delapan buah itu masing-masing berukuran kira-kira 26,5 cm. Dari 20 buah tiang piggir itu, 4 buah di antaranya sudah tidak asli lagi, sebab yang aslinya sudah lapuk dan ditukar oleh penduduk, 2 buah di antaranya ditukar pada tahun 1948 dan 2 buah lagi tahun 1953. Setiap penukaran tiang yang merupakan pekerjaan berat selalu dilakukan dengan gotong-royong yang diikuti dengan upacara tradisional.

    Tiang pengganti tersebut diukir sesuai dengan aslinya, yang dikerjakan oleh ahli ukir pahat kayu ketika itu yakni Moh. Gunah, Haji Laris dan Haji Bakri.

    3. Dinding

    Adapun dinding masjid dibuat dari papan yang lebar dan cukup tebal. Di atas dinding yang ada di sekeliling masjid terdapat jeruji yang berfungsi sebagai ventilasi pengganti jendela, yang berarti masjid tersebut tanpa jendela. Jeruji-jeruji tersebut dibuat dan disusun sedemikian rupa sehingga dari jauh kelihatan seolah-olah seperti kaum muslimin yang berjejer bahu-membahu atau berbaris (bersaf) sedang khusuk mengerjakan amal ibadah. Susunan jeruji itu juga merupakan perlambang gotong-royong masyarakat Pulau Tengah dalam mengerjakan sesuatu termasuk masjid itu sendiri.

    Kalau dahulu aslinya papan-papan dinding masjid itu berada tersusun di atas balok kayu. Pada tahun 1929 bersamaan dengan pergantian lantai, balok kayu tersebut ditukar dengan semen. Fondasi dasar dinding dari semen itu tingginya 43 cm dari lantai, yang bagian luarnya dihiasi dengan keramik putih bermotif bunga-bungaan, sedangkan bagian dalam dengan keramik putih tanpa matif (polos).

    Sementara itu dinding dan jeruji pada bagian timur sekarang tidak ada lagi, yang nampak adalah dinding dari semen yang dibuat oleh penduduk pada tahun 1967 sebagai pengganti yang lama.

    4. Pintu

    Salah satu pintu (https://www.kaskus.co.id)

    Dibagian timur masjid terdapat dua buah pintu. Masing-masing pintu mempunyai dua buah daun pintu yang dibuat dari papan tebal dan diukir. Konsen kedua pintu itu diukir dengan indah dan pemasangan pintu tersebut tidak mempergunakan engsel besi seperti pintu-pintu bangunan dewasa ini, tetapi dengan engsel sederhana saja dari kayu buatan anak negeri. Namun pada tahun 1929 bersamaan dengan penggantian lantai, sekarang dibuat mencontoh konstruksi Timur Tengah yakni melengkung bagian atasnya (kubah). Tinggi bagian tengahnya 143 cm dari dasar berpijak, dengan lebarnya 190 cm.

    5. Mihrab dan Mimbar

    Mihrab dan Mimbar (https://sepanjangjalankehidupan.blogspot.co.id)

    Mihrab buatan tahun 1929 yang ada pada saat ini terdiri dari ruangan (seperti masjidnya, berlantai semen) berukuran kira-kira 2,5 x 2,0 m, yang dibatasi dengan semacam pagar (dinding di bagian kiri, kanan dan depan) dengan tinggi kira-kira 75 cm. Dinding/pagar semen pembatas mihrab itu dihiasi dengan aneka keramik putih bermotif bunga-bungaan.

    Mihrab dan Mimbar (https://priedn.blogspot.co.id)

    Masih di dalam ruangan depan sebelah kanan mikhrab terdapat mimbar tempat khatib membaca khotbah. Mimbar tersebut berukuran 150 x 2,40 cm juga berukir indah dengan 6 buah tiang yang melambangkan Rukun Iman yang enam. Dari depan terlihat mimbar itu memiliki semacam tangga 4 buah untuk sampai kepada bagian tempat duduk di atasnya, yang tingginya kira-kira 1,20 m dari lantai. Disebelah kiri mimbar yang disebutkan di atas terdapat mihrab tempat imam memimpin sembahyang, yang dalam konstruksi masjid (seperti masjid-masjid lainnya) menjorok ke depan (barat). Sebelum mihrab tersebut, ada semacam gerbang yang indah pula dari kayu yang penuh dengan ukiran dengan cat warna-warni.

    6. Atap

    Atap dan ornamen (https://www.kaskus.co.id)

    Atap masjid berbentuk tumpang tiga masih bertahan hingga saat ini, dengan puncak berupa mustaka berbentuk bawang. Pada atap tumbang pertama, panjangnya sekitar 3 m. Semua ujung kasau yang terdapat pada atap bagian pertama (bawah) itu, yang menjulur keluar ruangan diukir dengan ukiran tembus yang indah, ukiran patah tumbuh hilang berganti, yang oleh penduduk disebut ukiran gading (karena nampaknya agak seperti gading).

    7. Tempat Muadzin

    Ada dua hal yang menarik perhatian bila kita melihat ke bagian atas ruangan masjid tersebut. Yang pertama adalah bangunan tempat adzan yang dibuat melekat melingkar pada sokoguru (tiang tengah) pada ketinggian 6 m dari lantai. Bangunan ini terlihat seperti pagar melingkar penuh dengan ukiran berbagai pola. Ukuran kelilingnya sekitar 440 cm masing-masing sisinya yang delapan itu berukuran 55 cm dan tingginya 75 cm.

    Di sekeliling bangunan tempat adzan tersebut ada 14 buah tempat meletakkan lampu (yang digunakan dahulu adalah lampu minyak tanah kecil buatan China). Tempat meletakkan lampu itu spesial dibuat seperti tangan-tangan dari kayu yang berukir dan menjulur keluar. Tempat lampu yang demikian terdapat pula pada 4 buah tiang yang lainnya, di tengah ruangan, dan 20 buah tiang pinggir, sehingga semuanya berjumlah 38 buah. Sayangnya sekarang lampu-lampu antik yang masa lalu memperindah suasana masjid pada malam hari itu, tidak ditemui lagi.

    C. Lapangan dan Tabuh Besar (Tabuh Larangan)

    Masjid Keramat itu mempunyai sebuah lapangan yang cukup luas di bagian barat. Lapangan itu dahulu berfungsi sebagai tempat mengadakan keramaian-keramaian pada hari-hari tertentu, terutama yang berhubungan dengan acara hari besar Islam. Di lapangan itulah masa lalu rakyat biasanya berkumpul menyaksikan pertunjukan pencak silat, tale atau kasidah dan hiburan lainnya dalam rangka menyambut peristiwa penting atau ke-datangan hari besar Islam.

    Tabuh Larangan (https://djangki.wordpress.com)

    Di lapangan tersebut terdapat sebuah bagunan kecil yang tidak berdinding, hanya beratap di mana terletak tabuh besar. Tabuh itu panjangnya kira-kira 5,5 meter dengan garis tengah 90 cm ujung dan 77 cm pangkalnya. Tabuh itu adalah buatan tahun 1940 tabuh tersebut terletak pada bangunan kecil juga dengan tiang dari pohon kelapa beratap kayu (atap lapis). Pemindahan tabuh itu ke lokasi sekarang dilakukan pada tahun 1997, ketika pembangunan pagar luar. Kalau sekarang Masjid Keramat itu memiliki 2 pagar (dalam dan luar), aslinya dahulu tanpa pagar. Pagar pertama yaitu pagar bagian dalam dibuat pada tahun 1940 setelah peristiwa kebakaran desa Koto Tuo (1939). Tabuh besar yang asli besar dan lebih bagus dari yang ada sekarang.
  • Masjid Agung Pondok Tinggi (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

    Masjid Agung Pondok Tinggi terletak di Desa atau kelurahan Pondok Tinggi, Kecamatan Sungai Penuh, Kota Sungai Penuh, Propinsi Jambi.

    Sejarah

    Masjid Agung Pondok Tinggi (https://archive.kaskus.co.id)

    Masjid Agung Pondok Tinggi didirikan pada hari rabu pada tanggal 1 Juni 1874, dipilihnya pada hari rabu ini menurut adat setempat merupakan hari terbaik mendirikan rumah atau bangunan.

    Masjid dibangun atas dasar gotong royong masyarakat yang dipimpin oleh pemuka adat dan agama, dipati, ninik mamak, serta cerdik pandai. Kayu-kayu sebagai bahan dasar bangunan dikumpulkan sebelum melakukan pembangunan. Setelah bahan terkumpul, dilakukan pemilihan panitia yang diketuai oleh jenang. Terpilih desain dari Nuryan M. Tiru dari Rio Mandaro. Tujuh hari tujuh malam saat awal pembangunan dilakukan berbagai macam atraksi dengan mengorbankan 12 ekor kerbau.

    Semula Masjid Agung Pondok Tinggi dinamakan Masjid Pondok Tinggi karena Bung Hatta (Wakil Presiden RI) berkunjung ke Sungai Penuh menyebut Masjid Agung maka sampai sekarang masjid disebut dengan Masjid Agung Pondok Tinggi.

    Arsitektur


    Masjid Agung Pondok Tinggi merupakan salah satu masjid kuno dengan arsitektur khas Nusantara, beratap tumpang dan berkontruksi kayu. Demikian halnya pada interior masjid berupa dinding-dinding dan tiang kayu yang didominasi dengan ukiran khas Kerinci, motif sulur-suluran, hiasan geometris, dan pada bagian lain dinding juga terdapat ukiran terawangan yang juga berfungsi sebagai fentilasi udara. Di dalam masjid juga tersimpan sebuah bedug larangan yang cukup panjang lebih dari 5 meter. Menurut adat masyarakat Kerinci fungsinya adalah dibunyikan sebagai sarana komunikasi untuk berkumpul atau menandai peristiwa tertentu.

    Diskripsi Bangunan

    Bangunan Masjid Agung Pondok Tinggi menghadap ke timur, berukuran 30 x 30 meter dengan tinggi bangunan setinggi 100 kaki atau sekitar 30,5 meter dari lantai dasar hingga ke puncak atap.

    Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran motif tumbuhan dan mempunyai kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Dilengkapi dengan berbagai hiasan motif geometris. Pada setiap sudut dinding terdapat hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat dari ubin. Masjid ini mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran.

    Atap

    Atap dan ornamen (https://bujangmasjid.blogspot.co.id)

    Atap bangunan masjid Agung Pondok Tinggi berupa atap tumpang bersusun tiga tingkat yang semakin mengecil ke atas, dibawahnya terdapat berbagai ornamen. Atap teratas berbentuk limasan yang pada puncaknya melambangkan susunan pemerintahan yang ada di Dusun Pondok Tinggi.

    Detail ornamen dibawah atap (https://bujangmasjid.blogspot.co.id)

    Dinding dan Lantai

    Dinding luar (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

    Dinding dalam (https://hafifulhadi.blogspot.co.id)

    Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran motif flora dan mempunyai kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Pada setiap sudut dinding terdapat hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat dari ubin.

    Detail ornamen di dinding (https://dananwahyu.com)

    Pintu

    Salah satu pintu dengan ornamen (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

    Masjid ini mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran. Di dalam masjid terdapat 36 buah tiang kayu berbentuk segi delapan dan berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran. Tiang-tiang tersebut dikelompokkan menjadi 3, yakni kelompok 1 terdiri atas 4 buah tiang berdiameter 0,90 m yang terletak di tengah-tengah ruang utama masjid. Kelompok 2 terdiri atas 8 buah tiang berdiameter 0,65 m yang mengelilingi tiang kelompok 1. Kelompok 3 terdiri atas 24 buah tiang berdiameter 0,65 m yang mengelilingi tiang kelompok 2.

    Ruang Utama

    Ruang utama dengan 36 tiang (https://dananwahyu.com)

    Untuk memasuki ruang utama terdapat pintu di sisi timur bangunan. Di dalam ruang utama berdiri 36 tiang sebagai penopang atap yang terbagi ke dalam tiga kelompok. Pertama, 4 buah tiang panjang sambilea (15 m) yang disebut tiang tuao (soko guru) berbentuk segi delapan dan berpelipit. Kedua, 8 buah tiang panjang limau (8 m) berbentuk segi delapan yang membentuk segi empat diluar soko guru. Terakhir, 24 buah tiang panjang duea (5,5 m) membentuk segi empat terluar dan merupakan tiang dasar sebagai penyangga serta berjajar tujuh buah tiang. Selain ke-36 tiang tersebut ada pula tiang sambut, yakni tiang yang tergantung dan tidak bertumpu pada tanah tetapi terikat pada kayu-kayu alang. Setiap tiang dihubungkan dengan papan penguat yang berukir sulur-sulur. Kemudian pada tiang-tiang yang menyerupai pasak memiliki hiasan berbentuk kepala gajah.

    Ruang utama (https://dananwahyu.com)

    Mihrab dan Mimbar

    Mihrab (https://fallenpx.blogspot.co.id)

    Pada sisi barat ruang utama terdapat penampil yang berfungsi sebagai mihrab berdenah persegi panjang. Pada dindingnya terdapat hiasan bunga dari porselin buatan Belanda.

    Mihrab merupakan bangunan tambahan terbuat dari tembok yang dibangun pada tahun 1916. Pintu mihrab berada di sisi timur berjumlah dua. Bagian depannya berbentuk lengkungan berhiaskan motif geometris dan sulur. Atap mihrab berbentuk kubah dengan mustaka di atasnya. Mihrab masjid terletak di sebelah barat, berdenah persegi panjang dengan ukuran 3,10 x 2,40 m. Pada bagian depan mihrab terdapat bentuk lengkung yang dihias dengan ukiran motif geometris dan sulur-suluran, serta tempelan tegel keramik.

    Mimbar (https://fallenpx.blogspot.co.id)

    Di sebelah utara mihrab terdapat mimbar yang ditopang oleh enam buah tiang dan memiliki tiga anak tangga sebagai jalan masuk. Hiasan pada mimbar menyerupai bunga padma kala makara dan daun-daunan.

    Tempat Adzan

    Tempat Muadzin mengumandangkan adzan (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

    Tempat adzan berada pada bagian tengah masjid di atas alang yang dihubungkan tangga. Tempat masjid berupa anjungan dengan dinding terbuat dari papan. Bagian tengahnya memiliki tangga untuk naik ke tempat adzan dengan 17 anak tangga, dimana tempat adzan berada 5 meter di atas lantai. Keunikan lain dari masjid ini adalah tempat muadzin mengumandangkan adzan terletak di atas tiang utama masjid. Untuk mencapainya dihubungkan dengan tangga berukir motif sulur-suluran dan diakhiri sebuah panggung kecil berbentuk bujur sangkar yang berukuran 2,60 x 2,60 m dikelilingi pagar berhias ukiran motif flora. Panggung kecil inilah yang merupakan tempat muadzin berdiri dan mengumandangkan adzan. Sedangkan bagian mimbar masjid berukuran 2,40 x 2,80 m, dihias dengan ukiran motif sulur-suluran dan atap berbentuk kubah.

    Bedug

    Tabuh Larangan (https://bujangmasjid.blogspot.co.id)

    Di dalam masjid juga terdapat dua buah bedug. Bedug pertama disebut tabuh larangan terbuat dari satu batang pohon dan dipukul atau dibunyikan bila ada bahaya. Bedug kedua berfungsi sebagai pemberi tanda waktu shalat. Tali pengikat bedug terbuat dari kulit sapi atau kerbau dan disebut saoh. Atap bangunan masjid berupa atap tumpang bersusun tiga tingkat yang semakin mengecil ke atas.

  • Arsitektur Islam pun dapat ditelusuri keadaan suatu masyarakat Muslim, situasi kemasyarakatannya, pemahaman keagamaannya, di saat dan tempat di mana karya arsitektur masjid tersebut berada. Arsitektur islam sebagai benda bentukan dengan sendirinya akan bisa menuntun pada penjelasan tentang pola perilaku, kehendak, keinginan, dan gagasan keagamaan masyarakat Muslim di sekeliling bangunan islam tersebut.

    Masjid Lempur Tengah (Lamo) Kerinci Jambi

    Masjid Lempur Tengah (Lamo) - https://djangki.wordpress.com

    Masjid Kuno Lempur Tengah terletak di Desa Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi, dengan luas lahan 207 m2 dan luas bangunan 144 m2.

    Menurut Anton, seorang arkeolog dari Universitas Indonesia (UI) yang sedang melakukan penelitian di daerah ini, mengemukakan pendapatnya bahwa Masjid Lamo ini dibangun sekitar akhir abad ke-15 Pendapat itu didasarkan pada bentuk Masjid Lamo yang menyerupai arsitektur masjid kuno yang ada di Jawa, bercorak Hindu dengan atap limasnya.


    Masjid Keramat Koto Tuo (https://dananwahyu.com)

    Masjid Keramat Koto Tuo Pulau Tengah terletak di Dusun Koto Tuo, Desa Pulau Tengah, Kecamatan Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi, dengan luas lahan 2.650 m2 dan luas bangunan 729 m2.

    Masjid Keramat mulai dibangun pada tahun 1780, dan selesai pada tahun 1785, merupakan perlambang kejayaan Islam di Kerinci pada masa itu. Pengagasnya adalah Syech sang ulama Pulau Tengah, terinspirasi Masjid Demak sekembalinya dari Mataram (Jawa) pada tahun 1679.


    Masjid Agung Pondok Tinggi (https://robbihafzan.wordpress.com)

    Masjid Agung Pondok Tinggi terletak di Desa/kelurahan Pondok Tinggi, Kecamatan Sungai Penuh, Kota Sungai Penuh, Propinsi Jambi.

    Masjid Agung Pondok Tinggi didirikan pada hari rabu pada tanggal 1 Juni 1874, dipilihnya pada hari rabu ini menurut adat setempat merupakan hari terbaik mendirikan rumah atau  bangunan, semula Masjid Agung Pondok Tinggi dinamakan Masjid Pondok Tinggi karena Bung Hatta (Wakil Presiden RI) berkunjung ke Sungai Penuh menyebut Masjid Agung maka sampai sekarang masjid disebut dengan Masjid Agung Pondok Tinggi.

    Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Kota Jambi Jambi

    Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah bentuk asli sebelum direnovasi total oleh Pemerintah Kolonial Belanda (https://id.wikipedia.org)

    Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah terletak di Jalan KH. Ibrahim, RT 05, Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi, Propinsi Jambi. Masjid Ikhsaniyyah atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Batu adalah masjid tertua di kota Jambi, provinsi Jambi.

    Masjid ini didirikan pada tahun 1880 oleh Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri. Sayyid Idrus, seorang tokoh penyebar Islam di Jambi dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo, beliau merupakan seorang ulama keturunan Yaman. Masjid Batu ini didirikan Sayyid Idrus untuk memenuhi fungsi tempat ibadah bagi masyarakat seberang kota Jambi. Masyarakat kota Jambi waktu itu yang sudah fanatik keislamannya memanfaatkannya sebagai tempat ibadah dan kegiatan sosial lainnya.

    Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah setelah direnovasi keseluruhan tahun 1937 (https://sindonews.com/)

    Karena menganggap bahwa masjid tersebut bernilai sejarah sebagai masjid sultan, tahun 1937 pihak pemerintah kolonial mengambil alih pembangunan masjid, dengan merubah total bentuk masjid. Dana pun turun dari pihak kolonial dan pembangunan sepenuhnya berada dalam pengendalian Belanda. Padahal awalnya para tokoh masyarakat hanya perlu izin karena dana sudah tersedia. Jadilah dana dari masyarakat itu tidak terpakai yang akhirnya digunakan untuk membuat pagar mengelilingi masjid.
  • Masjid Al Mubaraq (https://simas.kemenag.go.id)

    Masjid Al Mubaraq, luas tanah 3.600 m2 dan luas bangunan masjid 242 m2, terletak di Kelurahan Merai, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun, Propinsi Kepulauan Riau, tidak jauh dari pusat kota Karimun, tepatnya di pinggir pantai. Bagi warga tempatan, masjid ini merupakan barang peninggalan sejarah Melayu yang sangat berharga. Betapa tidak, masjid kokoh dengan arsitek unik dan bernilai tinggi pada masa abad ke-17 ini, dibangun oleh Raja Abdullah Bin Raja Ahmad Engku Tuah cucu dari Raja Haji Fisabillilah. Dari catatan sejarah, Masjid Al-Mubaraq dibangun pada tahun 1873 Masehi, tertua ketiga di wilayah Provinsi Kepri.

    Sejarah

    Masjid Al Mubaraq (https://simas.kemenag.go.id)

    Sesuai sejarah, seorang tokoh agama, Raja Sirwansyah atau yang akrab disapa Raja Iwan mengatakan, pelabuhan pertama di Karimun berada di depan Masjid Al-Mubaraq, Meral. Karena di daerah Meral itu adalam tempat kapal para saudagar dari Arab, China dan India singgah dan mengumpulkan rempah-rempah.

    Justru itu, para saudagar mengembangkan syiar agama Islam dan membangun masjid. Setelah selesai dibangun, Masjid Al-Mubaraq menjadi masjid pertama untuk di Pulau Karimun. Untuk di Kepri, masjid ini tertua ketiga, setelah Masjid Raja Abdul Rani di Pulau Buru. Dahulunya Masjid Al-Mubaraq di Meral menjadi pusat pengembangan dan menjalankan syiar Islam, sebagai pemerintahan dan pusat perdagangan. Namun sejalan dengan perkembangan zaman, pusat perdagangan sudah menyebar di seluruh wilayah Kepri. Saat ini Masjid Al Mubaraq diurus oleh keturunan dari Raja Abdullah.

    Arsitektur


    Dari catatan sejarah, pembangunan Masjid Al-Mubaraq membutuhkan waktu sekitar 3 tahun. Pembangunan masjid yang bercorak Arab, China dan India ini pernah digunakan oleh seorang saudagar yang singgah kala itu, untuk menunaikan salat lima waktu.

    Diskripsi Bangunan

    Masjid bersejarah ini dibangun dengan bahan yang unik. Bangunan masjid itu tidak dibangun dengan bahan material bangunan seperti masa sekarang. Tapi, dibangun dengan campuran tanah liat dengan putih telur. Sama dengan bahan pembangunan Masjid Raya Sultan Riau, di Pulau Penyengat.

    Dinding

    Hingga sekarang yang masih asli adalah dinding masjid, sementara menara dan mimbar disesuaikan dengan bentuk aslinya, Dinding luar Masjid Al Mubaroq sengaja dicat kuning melambangkan kesejahteraan rakyat semasa pemerintahan raja, sedangkan dinding dalam dicat hijau melambangkan kemakmuran. Warna tersebut sama dengan Masjid Pulau Penyengat, karena kami satu keturunan dengan raja disana.

    Kegiatan

    Kegiatan di Masjid Al-Mubaraq (https://kemenagkarimun.blogspot.co.id)

    Untuk memuliakan Masjid Al-Mubaraq, selain tempat ibadah salat lima waktu, pengurus masjid membuka pusat belajar mengaji alquran. Dari usia anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan di masjid ini pula menjadi tempat bermusyawarah tentang pemahaman ilmu agama Islam. ”Ke depan, kita berencana menjadikan Masjid Al-Mubaraq Meral ini sebagai pusat sejarah Karimun dan sejarah masuknya Islam ke bumi berazam Karimun. Sudah tepat jika masjid ini menjadi tempat wisata religi,” demikian Raja Iwan mengahiri.

    Pemugaran

    Masjid Al Mubaraq (https://simas.kemenag.go.id)

    Masjid Al Mubaroq telah empat kali mengalami pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan oleh Raja Usman (Bukan Raja Usman yang Ketua Masjid sekarang-red) pada tahun 1930-an, atap yang semula dari daun rumbia digantinya dengan atap genteng setelah masuknya Belanda ke Karimun. Namun, pada saat itu corak bangunan masih belum berubah.

    Berubahnya corak bangunan terjadi pada pemugaran kedua yang dilakukan oleh Raja Muhammad Sum Nur sekitar tahun 1970-an. Bangunan yang semula terdapat teras, akhirnya dipugar menjadi satu bangunan saja. Begitupun, lonceng untuk memanggil jemaah sholat Jumat dan beduk tidak ada lagi.

    Pemugaran ketiga dilakukan oleh Raja Adnan Daud pada tahun 2003. Semasa Raja Adnan Daud, tempat wudhu diganti dan diperlebar, begitupun halamannya makin diperluas hingga ke pinggir laut. Tempat wudhu dulu namanya kolah. Sampai sekarang di tempat wudhu perempuan masih terdapat batu persegi delapan yang sengaja didatangkan dari Aceh.

    Barulah pada tahun 2010 yang lalu, Raja Usman kembali memugar Masjid Al Mubaroq. Ia kembali membangun teras masjid. Sebelumnya, teras hanya terdapat di belakang, namun sekarang ia malah membangun teras hingga ke sekeliling masjid. Ia juga tetap mempertahankan bentuk bangunan atap, mimbar, menara dan teras masjid tersebut.
  • Masjid Raya Sultan Riau dari atas (https://oldlook.indonesia.travel)

    Masjid Raya Sultan Riau terletak di Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.

    Masjid Sultan Riau atau Lebih dikenal dengan sebutan Masjid Pulau Penyengat, keberadaan masjid ini menjadi ikon sejarah penting di Kepulauan Riau, karena masjid ini merupakan satu-satunya peninggalan masa Kejayaan Kerajaan Riau-Lingga (1928-1911).

    Masjid Raya Sultan Riau dari laut

    Masjid Raya Sultan Riau di Penyengat ini didirikan pada tahun 1832 semasa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VI Raja Jaafar (1806 – 1831) dan dilanjutkan pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rachman (1833–1844).

    Sejarah

    Masjid Raya Sultan Riau

    Masjid ini mulai dibangun sekitar tahun 1761-1812. Pada awalnya, masjid ini hanya berupa bangunan kayu sederhana berlantai batu bata yang hanya dilengkapi dengan sebuah menara setinggi lebih kurang 6 meter. Namun, seiring berjalannya waktu, masjid ini tidak lagi mampu menampung jumlah anggota jemaah yang terus bertambah sehingga Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman, Sultan Kerajaan Riau-Linggga pada 1831-1844 berinisiatif untuk memperbaiki dan memperbesar masjid tersebut.

    Untuk membuat sebuah masjid yang besar, Sultan Abdurrahman berseru kepada seluruh rakyatnya untuk beramal dan bergotong-royong di jalan Allah. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada tanggal 1 Syawal 1248 Hijriah (1832 M), atau bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Panggilan tersebut ternyata telah menggerakkan hati segenap warga untuk berkontribusi pada pembangunan masjid tersebut.

    Masjid Raya Sultan Riau

    Orang-orang dari seluruh pelosok teluk, ceruk, dan pulau di kawasan Riau Lingga berdatangan ke Pulau Penyengat untuk mengantarkan bahan bangunan, makanan, dan tenaga, sebagai tanda cinta yang tulus kepada Sang Pencipta dan Sang Sultan. Bahkan, kaum perempuan pun ikut serta dalam pembangunan masjid tersebut sehingga proses pembangunannya selesai dalam waktu yang cepat. Terbukti, fondasi setinggi sekitar 3 meter dapat selesai hanya dalam waktu 3 minggu.

    Konon, karena banyaknya bahan makanan yang disumbangkan penduduk, seperti beras, sayur, dan telur, para pekerja sampai merasa bosan makan telur sehingga yang dimakan hanya kuning telurnya saja. Karena menyayangkan banyaknya putih telur yang terbuang, sang arsitek memanfaatkannya sebagai bahan bangunan. Sisa-sisa putih telur itu kemudian digunakan sebagai bahan perekat, dicampur dengan pasir dan kapur, sehingga membuat bangunan masjid dapat berdiri kokoh, bahkan hingga saat ini.

    Arsitektur

    Masjid Raya Sultan Riau

    Ditilik dari sisi arsitektur, masjid ini sangat unik karena memadukan gaya Timur Tengah dan Melayu. Hal tersebut tidak menjadi aneh mengingat arsitek pembangunan masjid adalah pedagang dari India.

    Konsep penggunaan arsitektur Melayu terlihat jelas pada rumah Sotoh yang berupa bangunan balai-balai yang terletak di sebelah kanan dan kiri halaman masjid.

    Diskripsi Bangunan

    Masjid Raya Sultan Riau

    Luas keseluruhan kompleks masjid ini sekitar 54,4 x 32,2 meter, dengan bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter, tempat ibadah umat muslim yang dicat dengan warna kuning dan hijau terlihat lebih menonjol dibandingkan bangunan di sekitarnya.

    Bangunan Masjid Raya Sultan Riau Penyengat dikelilingi pagar tembok dan letaknya lebih tinggi dari permukaan tanah di sekitarnya. Kompleks masjid terdiri atas sebuah masjid sebagai bangunan utama, dua buah bangunan di sisi timur yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai keperluan perayaan atau upacara yang berkaitan dengan hari-hari besar Islam.

    Selain itu, di antara kedua bangunan tersebut juga terdapat dua buah bangunan semacam pendopo. Bangunan tempat wudlu terletak di sisi utara dan selatan bangunan masjid.

    Menara

    Salah satu Menara Masjid Raya Sultan Riau (https://tindaktandukarsitek.com)

    Empat menara yang dibangun berada di sudut ruang utama masjid dengan bentuk hampir sama, tingginya mencapai 19,9 meter, dengan bentuk atap yang runcing dan tiang penompang yang ramping, yang dulu digunakan oleh muadzin untuk mengumandangkan panggilan salat (adzan). Keempat menara ini berbentuk bangunan klasik yang biasa ditemui di Turki pada masa Bizantium.

    Kubah

    Kubah dan Menara Masjid Raya Sultan Riau (https://websta.me)

    Tiga belas kubah, berbentuk bawang, berbaris empat mengarah kiblat dan berbaris tiga dengan arah melintang. Secara keseluruhan kubahnya berjumlah 12. Jika ditambah dengan kubah di atas beranda depan pintu masuk utama, maka, jumlahnya menjadi 13.

    Susunan kubahnya bervariasi mengelompok dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ketika kubah dan menara tersebut dijumlahkan, ia menunjuk pada angka 17. Ketika kubah dan menara tersebut dijumlahkan menunjuk pada angka 17, yang merupakan melambangkan jumlah roka’at shalat fardhlu dalam sehari semalam.

    Balai dan Rumah Sotoh

    Balai ada di kiri dan di kanan (https://www.indonesia-tourism.com)

    Di antara keunikan yang dimiliki oleh Masjid ini adanya dua bangunan yang khas yang mendampingi dibelakangnya, yaitu “Rumah Sotoh” dan “Balai-balai”. Dua bangunan ini masing-masing ada dua, satu pada sisi kiri dan satu pada sisi kanan. Bagian tengah dari dua bangunan ini digunakan untuk jalan setapak dari bata merah yang membentang di tengah pelataran berumput. Sisi terpanjang dari rumah sotoh ini sejajar dengan arah kiblat. Kedua bangunan ini semacam gardu, tapi besar dan panjang tak berdinding, mempunyai kolong, dengan konstruksi terbuat dari kayu. Bangunan ini disebut balai musafir.

    Balai Musafir (https://annafardiana.wordpress.com)

    Balai-balai berbentuk bangunan terbuka semacam gardu tetapi besar dan panjang tak berdinding mempunyai kolong, konstruksi kayu. Dalam istana-istana di Jawa dalam bentuk lebih besar, unit semacam itu disebut paseban, untuk ruang tunggu tamu Raja. Balai-balai ini sejak dahulu digunakan untuk rehat para musafir, tempat bermusyawarah, tempat menunggu waktu salat dan berbuka puasa. Kedua balai itu dahulu beratap sirap dari kayu belian dan dindingnya seperti kisi-kisi rapat. Sekarang atapnya sudah diganti dengan genteng yang didatangkan dari Perancis. Kesatuan rumah Sotoh dan balai-balai menambah keindahan tata ruang Masjid ini.

    Balai dan Rumah Sotoh

    Rumah sotoh berbentuk bangunan tertutup sejak dahulu digunakan untuk tempat belajar mengajar, area diskusi para alim ulama dan tempat menginap bagi musafir. Rumah Sotoh sebelah kiri masjid juga digunakan untuk dapur dan meletakkan sarana makan-minum dan hidangan acara-acara khusus. Di sini pula pernah disimpan sisa-sisa instrument orkestra diraja yang disebut Gendang Nobat. Sekarang ini, alat ini sudah disimpan di Museum Swasta Kandil Riau di Tanjung Pinang.

    Ruang Utama

    Ruang utama (https://komunitas.rimanews.com)

    Sebelum memasuki ruang utama, kita akan dihadapkan dengan sebuah beranda atau serambi yang berupa sebuah unit yang menjorok ke depan (porc) dan diatapi dengan kubah. Dalam arsitektur Jawa, unit ini biasa disebut kuncung. Di sudut-sudutnya terdapat pilaster. Di serambi ini tersimpan dua buah lemari kayu berhias kaligrafi yang menyimpan koleksi naskah-naskah kuno peninggalan Sultan. Selain itu pada beberapa bagian dindingnya dihiasi dengan kaligrafi-kaligrafi arab dan jadwal waktu salat.

    Saat memasuki pintu penghubung antara beranda dan ruang utama, dapat ditemukan sebuah balai terbuat dari kayu yang digunakan sebagai tempat meletakkan Al-Qur’an tulisan tangan dan kotak amal. Pada balai ini pula dapat disaksikan manuskrip mushaf Al-Qur’an kuno, buah tangan Abdurrahman Istambul yang diselesaikan penulisannya pada tahun 1867 M. Selain manuskrip mushaf ini, Masjid ini masih menyimpan satu manuskrip mushaf yang lain yang tidak panjang karena kondisinya sudah rapuh.

    Pilar Masjid yang berbentuk unik

    Nuansa ruangan utama Masjid ini terbagi pada beberapa bagian menyesuaikan bagian langit-langit yang terbentuk dari atap kubah. Ruang utama ditopang oleh 4 buah pilar beton yang kokoh dan terbagi menjadi 9 petak, 6 petak di muka menjadi ruang salat khusus laki-laki dan 3 di belakang dipersiapkan untuk ruang shalat perempuan jika dibutuhkan. Sementara dalam kondisi sehari-hari (tanpa ada perayaan), ruang salat perempuan hanya menempati satu petak di belakang pada sisi sebelah kiri.

    Bangunan utama masjid berdenah segi empat, terdapat empat buah tiang utama (pilar dari beton), dengan pintu masuk utama di sisi timur, dan pintu lain di sisi utara dan selatan. Bangunan masjid memiliki serambi ruang utama.

    Mihrab dan Mimbar

    Mihrab dan Mimbar (https://artmelayu.blogspot.co.id)

    Mihrab Masjid ini dibentuk menjadi ruangan khusus yang cukup indah, dengan bingkai ornamen bunga-bunga hijau dan kuning dan mimbar yang berwarna kuning keemasan. Posisi imam ada di tepi mihrab sebelah kiri, sedangkan mimbar diletakkan di tengah-tengah mihrab agak menjorok ke dalam. Hal ini disebabkan mimbar Masjid ini cukup besar dan tinggi. Sehingga tidak memungkinkan jika ditempatkan sejajar dengan posisi imam.

    Mimbar Masjid ini sangat indah, terbuat dari kayu jati yang dicat dengan warna kuning keemasan dan bermotif ukiran bunga. Mimbar ini kabarnya dipesan dari Jepara atas permintaan Raja Achmad pada tahun 1826 M dalam perjalanannya ke Jawa Tengah. Sebenarnya ada dua mimbar yang dipesan waktu itu, satu diletakkan di Masjid ini dan satu lagi diletakkan di Masjid Daik Pulau Lingga yang menjadi pusat pemerintahah kerajaan Riau- Lingga. Mimbar ini memiliki 3 anak tangga dan satu buah tempat duduk untuk khatib.

    Bedug

    Bedug

    Masjid ini memiliki beduk yang terbuat dari kayu cengal bercat kuning dan kulit sapi yang direkatkan dengan ring besi. Panjang beduk ini mencapai 2,5 m dengan diameter 1 m, tersimpan di dalam Rumah Sotoh sebelah kiri tergantung ke atap dengan tambang. Beduk ini ditabuh lima kali dengan tabuhan terputus-putus ketika datangnya waktu salat, dan ditabuh dengan ritme lebih cepat pada petang hari di hari jumat membedakan dari hari-hari lainnya. Fungsinya untuk memberi tanda bagi masyarakat agar segera berkumpul melaksanakan shalat maghrib berjamaah yang selanjutnya disusul dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil bersama-sama. Selain itu, beduk ini ditabuh secara terus-menerus pada waktu datangnya Idul Fitri dan Idul adha, mulai malam hari hingga pelaksanaan shalat Id. Setelah shalat Id dilaksanakan, maka tabuhan beduk diteruskan bersahut-sahutan dengan tabuhan kentongan.

    Bangunan Lainnya

    Rumah Sotoh (https://tindaktandukarsitek.com)

    Perbedaannya terdapat pada bagian bingkai jendela dan pintu yang dibentuk melengkung, meski daun pintu dan jendela tetap menyerupai gaya rumah Gadang yang khas dengan kisi-kisi. Bangunan ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan beduk, dapur umum, dan tempat tinggal marbot atau pengurus masjid.

Comments

The Visitors says