PESONA WISATA INDONESIA

welcome to our blog



in a way, articles can also be described as a type of adjectives as they also tell us something about the nouns, like adjectives.

Articles are found in many Indo-European, Semitic, and Polynesian languages but formally are absent from some large languages of the world, such as Indonesian, Japanese, Hindi and Russian.

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

  • Ilustrasi menangkap ikan secara tradisional dengan menggunakan alat tradisional (https://aktifitaskampungku.blogspot.co.id)

    Permainan ini disebut kis-kisen, dalam bahasa Aceh Tenggara yang berarti adu menyelam di dalam air. Kis artinya tahan lama di dalam air atau tidak bernafas, dan kisen artinya diadu untuk tidak bernafas selama mungkin di dalam air. Peserta permainan menyelam di dalam air dengan disaksikan oleh para penonton. Salah seorang dari penonton menghitung berapa saat yang dapat diperoleh setiap peserta. Peserta yang terlama di dalam air dinyatakan memenangkan permainan ini.

    Sejarah

    Permainan ini sudah agak jarang dilaksanakan anak-anak. Permainan ini terdapat di kampung-kampung di luar kota bahkan jauh dari keramaian kota. Permainan ini pada mulanya hanya sebagai bunga dalam permandian, tetapi lama kelamaan dipertandingkan karena ada manfaatnya setelali anak itu besar.

    Karena Aceh Tenggara adalah daerah aliran sungai Simpang Kiri, salah satu sungai yang terbesar di Aceh, dan hasil ikannya cukup banyak. Untuk menangkap ikan kadang-kadang harus menyelam, misalnya bila jalanya tersangkut. Karena itu, diperlukan latihan menyelam sejak umur masih muda. Sayang sekali permainan ini tidak ada perkerbangannya sama sekali. Namun demikian, ada juga kebanggaan di hati masyarakat disini, yaitu bahwa permainan ini dipertandingkan adalah hasil inspirasi orang tua mereka dahulu kala.

    Pemain

    Pemain hanyalah anak laki-laki berumur kira-kira 10-15 tahun dan jumlah peserta tidak tetap, namun yang diutamakan adalah mereka yang telah punya nama. Persyaratan pakaian, alat, dan sebagainya dalam permainan ini tidak ada.

    Jalan Permainan

    Terlebih dahulu orang tua atau pemuda yang disegani menunjuk beberapa anak untuk ikut bermain. Kemudian setelah terpilih, kepada mereka diingatkan syarat-syarat permainan, seperti jangan curang, jangan mencaci maki raja jin, jangan memegang lawan di dalam air dan yang penting jangan buang air di sana.

    Misalkan ada lima anak laki-laki yang terpilih. Kelima anak tersebut berdiri berjejer di tepi sungai untuk memulai permainan, menunggu aba-aba dari orang tua yang bertindak sebagai juri. Bila aba-aba telah diberikan, secara serentak mereka terjun ke dalam air, dan sang juri dengan disaksikan orang lain menghitung mulai dari satu, dua, tiga, dan seterusnya. Hitungan ini sebagai ganti saat yang tepat lamanya seseorang bertahan di dalam air. Bila permainan nomor 1, misalnya muncul ke permukaan air tepat pada hitungan ke-20, maka dia dinyatakan sebagai penyelam dengan kis 20. Peserta nomor 2 dengan kis 30, nomor 4 dengan kis 37, dan nomor 4 dengan kis 50. Bila semua peserta telah muncul di permukaan air, maka peserta kembali berjejer.lagi di tempat semula untuk ronde kedua. Setelah permainan berakhir, maka pemain yang terbesar kisnya dianggap sebagai juara. Contohnya:

    Nomer Ronde/Jumlah Kis Kis Tertinggi Juara
    Pemain
      I    II    III    IV   V
    1 20  30  35  19  25 35 V
    2 20  30  35  19  25 30 IV
    3 20  30  35  19  25 35 III
    4 20  30  35  19  25 41 II
    5 20  30  35  19  25 50 I

    Peserta nomor 5 adalah juara I karena kisnya yang tertinggi, yaitu 50. Bila keadaan ini berlanjut terus. maka lama kelamaan peserta ini bisa memperoleh julukan pawang kis, artinya orang yang lama tahan menyelam di dalam air.
  • Ilustrasi bola dari tanah liat (https://intisari-online.com)

    Kekuriken adalah bahasa daerah Gayo yang asal katanya kurik, artinya ayam. Kekuriken berarti beradu seperti ayam. Permainan ini mempergunakan bola yang terbuat dari tanah liat. Bola tadi dinamai "kurik" karena akan diadu dengan kurik lainnya di arena peraduan yang dibuat sedemikian rupa sehingga bola digulirkan maka dengan sendirinya akan bertemu dengan bola lainnya, sehingga berbenturan keras. Bola yang pecah atau kurik yang kalah harus menanggung resiko, yaitu si pemiliknya harus menjalankan sanksinya yang telah disepakati bersama sebelumnya.

    Sejarah

    Menurut orang-orang tua, permainan ini asli berasal dari daerah Gayo ini karena menurut mereka ketika masih kanak-kanak mereka mlaksanakan permainan ini diajarkan orang-orang yang lebih tua, juga keadaan tanah persawahan di daerah ini memungkinkan melaksanakan permainan tersebut. Tanah persawahan yang sempit yang dikerjakan secara terus menerus menyebabkan tanah tersebut tandus dan akhirnya menjadi tanah liat. Bola dari tanah liat ini agak kuat sehingga mengasyikkan bila diadu.

    Perkembangan permainan ini dapat dikatakan tidak ada, bahkan kini terlihat gejala-gejala akan punah karena terdesak oleh jenis permainan lainnya yang lebih praktis.

    Pemain

    Pemain adalah anak-anak yang berumur antara 8-12 tahun dan terdiri dari laki-laki. Permainan boleh dilaksanakan secara perseorangan atau dapat juga beregu. Setiap regu beranggotakan 3-7 orang atau lebih, bergantung pada banyaknya anak yang berkumpul di arena permainan; di satu arena mungkin bermain beberapa regu yang satu sama lain tidak mempunyai hubungan apa-apa. Tentang persyaratan lainnya tidak ada.

    Jalan Permainan

    Peraturan permainan hampir tidak ada, kecuali ke dalam bola tidak boleh dimasukkan batu, dan bola yang pecah dianggap kalah.

    Permainan Perseorangan. Dua orang anak duduk di ujung pangkal sebuah tempat bermain yang telah dibuat bersama, dengan memegang kurik masing-masing. Secara serentak dengan aba-aba kedua anak tersebut menyentakkan kuriknya dengan maksud agar bergulir cepat ke arah kurik lawan. Di tengah arena, kurik beradu dengan benturan yang kuat. Untuk pertama atau kedua, mungkin belum ada kurik yang pecah, namun setelah beberapa kali tentu salah satu kurik tersebut ada yang pecah. Pemilik kurik yang pecah dinyatakan kalah. Pemilik ini harus menerima hukuman yang telah disepakati sebelumnya, misalnya menggendong pemenang dari suatu tempat ke tempat lain, misalkan yang bermain A dan B, yang menang adalah A, maka B harus menggendong A dari garis a ke garis b sejauh 25 meter, dan lain sebagainya.

    Permainan Beregu. Jumlah peserta setiap regu harus ganjil 3, 5, 7, dan seterusnya, maksudnya agar mudah menentukan pemenang. Kita misalkan jumlah peserta setiap regu 5 orang anak, sebagai berikut :

    Regu A 1                      Regu B 6
                 2                                   7
                 3                                   8
                 4                                   9
                 5                                 10

    Peserta nomor 1 mengadu kuriknya dengan peserta nomor 6, mereka berdua duduk berhadapan di tempat pengaduan pertama, peserta nomor 2 dengan nomor 7 duduk berhadapan di tempat ke dua, dan seterusnya.

    Setelah beberapa lama, ternyata kurik pemain nomor 6, 2, 8, 4, dan 10 pecah (kalah). Pemain nomor 2 dan 4 adalah dari regu A, sedangkan pemain nomor 6, 8, dan 10 adalah dari regu B. Setelah dihitung maka regu A menang 3 orang (1, 3, dan 5) dan regu B menang 2 orang (7 dan 9). Dengan kata lain, regu A mengalahkan regu B dengan angka 3-2. Jadi, seluruh anggota regu B menjalani hukuman yang telah disepakati sebelumnya, misalnya menggendong sejauh 25 meter atau menggosok badan lawannya yang sedang mandi. Setelah selesai menjalankan hukuman, permainan diulangi lagi sampai akhirnya berhenti untuk hari tersebut.
  • Ilustrasi Kinciran dari daun kelapa (www.youtube.com)

    Pepilo adalah bahasa daerah Gayo yang berarti baling-baling dalam bahasa Indonesia. Baling-baling dibuat dari batang kayu dadap yang sudah kering atau dari bambu kering, atau dapat juga kulit buah dadap yang sudah kering. Yang dibuat dari batang dadap untuk anak-anak yang sudah besar, yang dari bambu untuk anak sedang, dan yang dari kulit buah dadap untuk anak kecil. Pepilo model pertama, panjang baling-balingnya kira-kira sedepa, lebarnya 5 jari; model kedua sedikit lebih pendek dari yang pertama, dan yang ketiga sepanjang buah itu sendiri (kira-kira sejengkal). Pembuatan pepilo dari kayu dadap harus orang yang benar-benar ahli, tidak seperti yang dibuat dari bambu; sedangkan yang dari kulit buah tidak begitu sukar.

    Bila angin kencang, beberapa anak kita lihat memegang pepilo masing-masing, serta berlarian ke arah datangnya angin. Arena tempat diadakannya permainan ini riuh rendah dengan sorakan anak-anak karena pepilonya berputar dengan kuat.

    Sejarah

    Menurut penuturan orang-orang tua, permainan ini asli berasal dari daerah Aceh. Diciptakan oleh nenek moyang mereka mengingat keadaan yang memungkinkan, yaitu ada alat untuk dijadikan permainan, waktu, kreasi, dan inspirasi untuk membuatnya. Sejak mereka masih kecil permainan ini telah ada, dan orang tua merekalah yang mengajarkan permainan ini kepada mereka.

    Perlu kita ketahui bahwa menurut orang-orang tua, alat-alat, aturan permainan, serta sistem bermain anak-anak sekarang sama saja dengan mereka dahulu, dengan kata lain, hampir tidak berkembang sama sekali, sungguhpun digemari anak-anak.

    Pemain

    Jumlah peserta tidak tentu dan tidak terbatas, dan anak-anak yang menggemari permainan ini berumur sekitar 5 tahun sampai 15 tahun. Hal ini memungkinkan karena aturan permainan tidak begitu ketat. Asal tidak mengenai anak-anak lain dan atau pepilo lain, sudah dianggap baik. Tentang pakaian dan atribut lainnya juga tidak mengikat.

    Jalan Permainan

    Terlebih dahulu anak-anak menentukan garis start dan finish sebelum memulai permainan. Anak-anak yang sebaya berdiri pada garis start dengan pepilonya masing-masing. Setelah mendengar aba-aba lari, maka peserta berlari seluruhnya ke garis finish sambil mengangkat pepilonya setinggi bahu. Peserta yang pertama sampai ke garis finish dinyatakan sebagai pemenang. Pemenang ini tidak dicatat karena setelah seluruh peserta sampai ke garis finish, mereka kembali lagi ke garis start untuk bermain lagi. Walaupun dalam permainan ini ada peserta yang menang, namun kemenangan tersebut tidak menjadi tujuan permainan selain dari kegembiraan belaka.

    Selain kecepatan mencapai finish, faktor kerasnya suara pepilo sangat diperhatikan. Pepilo yang suaranya besar dan keras, sangat digemari anak-anak dan penonton. Dengan kata lain, dalam permainan ini yang dipentingkan lari peserta harus cepat dan suara pepilo harus nyaring, berdengung bagus.

    Kemungkinan dalam satu lapangan ada beberapa regu yang bermain, tetapi setiap regu harus berusia sebaya. Masing-masing regu mempunyai garis start dan finish tersendiri, dan antara setiap regu juga dijaga agar tidak terlalu dekat.

    Démikianlah pada setiap sore saat angin sedang bertiup kencang, anak-anak penuh di lapangan permainan dengan pepilo masing-masing. Masing-masing anak berusaha mengatasi lawan bermainnya.

    Anak-anak kecil bermain sesama mereka, demikian juga yang besar. Jarang sekali antara anak kecil bercampur baur dengan anak yang lebih besar dari dirinya atau sebaliknya. Permainan akan berhenti bila waktu telah hampir magrib. Permainan berhenti begitu saja tanpa menghitung kemenangan seseorang.

    Manfaat

    Permainan ini dapat diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dunia anak-anak. Keterlibatan mereka dalam permainan ini tidak ditentukan oleh kedudukan orang tua mereka di dalam masyarakat, tetapi berdasarkan partisipasi untuk memeriahkan permainan. Asal ada kemauan dan tersedia alat bermain, sudah dianggap memenuhi persyaratan bermain.
  • Rumah Allah, Ka’bah, di Masjidil Haram, Mekkah Al Mukharomah di tahun 2020 (https://www.kuncitips.com)

    Seperti kita ketahui, Mekah adalah sebuah kota suci umat Islam. Setiap umat Islam yang sanggup atau mampu, wajib untuk menunaikan rukun Islam ke-5, yakni pergi ke Mekah, yang dikenal dengan nama Naik Haji. Karena itu, pergi ke Mekah sangat didambakan oleh setiap umat Islam di dunia.Sekarang kita hubungkan mengapa nama permainan ini disebut Makah-makah. Kalau dilihat dari segi nama, permainan ini jelas berasal dari nama Mekah (umumnya orang Aceh menyebutnya dengan nama Makah).

    Permainan ini dilakukan secara beregu. Permainan ini bersifat kompetitif karena masing-masing regu betul-betul berusaha untuk dapat keluar sebagai pemenang. Bagi regu yang paling cepat atau terlebih dahulu dapat mencapai tujuan disebut Makah, maka regu itulah yang keluar sebagai pemenang.

    Nama ini digunakan seolah-olah sasaran yang dicapai itu betul-betul penting atau sangat didambakan seperti keinginan umat Islam untuk dapat dengan cepat menunaikan ibadah Haji (menunaikan rukun Islam ke-5 ke Mekah). Permainan Makah-makah ini dapat dijumpai di seluruh kelompok etnis yang ada di Nannggroe Aceh Darussalam (kelompok etnis Aceh, kelompok etnis Gayo, kelompok etnis Alas, kelompok etnis Aneuk Jame, kelompok etnis Kluet, dan kelompok etnis Tamiyang).

    Sejarah

    Bagaimana sejarah perkembangan permainan ini, tim peneliti belum memperoleh data-data yang kongkrit.

    Pemain

    Jumlah pemain untuk permainan ini 6 atau 8 orang. Jika 6 peserta setiap regu adalah 3 orang dan jika 8 peserta setiap regu 3 atau 4 orang. Pemain ini adalah anak-anak yang berumur antara 9-13 tahun, dan dilakukan baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Seperti telah disebutkan di atas, permainan ini dilakukan oleh anak-anak dari segala golongan dan lapisan masyarakat.

    Perlengkapan Permainan

    Permainan ini tidak memerlukan peralatan yang berarti, yang diperlukan hanya sebiji batu atau benda lainnya yang kecil untuk mudah disembunyikan dalam genggaman tangan yang diletakkan di bagian belakang punggung. Tempat yang diperlukan adalah tanah lapang sekitar 5 meter persegi.

    Jalannya Permainan

    Untuk permainan ini masing-masing regu 3 atau 4 orang dan seorang bertindak sebagai pimpinan regu. Kedua regu berdiri pada suatu garis secara berurut yang jaraknya antara regu yang satu dengan yang lainnya sekitar 2 meter. Semua regu menghadap ke titik sasaran yang dinamakan dengan sebutan Makah. Jadi, masing-masing regu berlomba untuk dapat terlebih dahulu sampai ke titik sasaran (Makah).

    Tugas kepala regu adalah mengawasi atau menempatkan batu pada salah seorang anggota regunya. Untuk ini ia membuat seolah-olah semua anggota diberi batu untuk disembunyikan dalam kedua tangan yang ditempatkan di belakang. Sebenarnya yang diberikan batu adalah salah seorang di antara anggotanya.

    Selanjutnya setelah batu disembunyikan, maka tugas dari regu lain, dalam hal ini melalui kepala regu untuk menebak berada pada siapa batu disembunyikan. Kalau regu lawan tidak dapat menerka, maka peserta, tempat batu disembunyikan, maju selangkah ke depan. Demikian seterusnya permainan berlangsung, sehingga salah satu regu di antaranya dapat mencapai titik sasaran (Makah). Bagi regu yang terlebih dahulu sampai, keluar sebagai pemenang.

    Waktu Pelaksanaan

    Permainan ini dilakukan pada siang hari pada waktu senggang saat anak-anak telah pulang dari sekolah dan menunggu waktu makan siang, atau pada hari-hari libur.Permainan ini juga dilakukan di tanah-tanah lapang atau di halaman-halaman rumah karena permainan ini dilakukan secara beregu.

    Manfaat

    Serti telah dijelaskan di atas bahwa permainan ini sangat bersifat kompetitif. Dalam permainan ini hendak digambarkan oleh "si pencipta permainan" bahwa betapa pentingnya orang untuk dapat mencapai cita-citanya. Karena itu, orang harus berusaha, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama agar apa yang diinginkannya dapat tercapai. Di sini juga hendak digambarkan bagaimana pentingnya pergi ke Mekah bagi umat Islam.
  • Ilustrasi

    Permainan ini dapat dijumpai di Nanggroe Aceh Darussalam, terutama pada kelompok etnis Aceh dan kelompok etnis Aneuk Jame yang berlokasi dibagian Kabupaten Aceh Selatan. Jadi, lokasi/tempat permainan ini dijumpai selain di bagian pesisir Aceh (pesisir Utara dan pesisir Timur) juga di pesisir bagian Barat (termasuk Kabupaten Aceh Selatan sekarang), yang masing-masing didiami sebagian kelompok etnis Aceh dan kelompok etnis Aneuk Jame.

    Dilihat dari segi nama, permainan ini menunjukkan keanehannya Kapai-kapai Inggreh dalam Bahasa Indonesia artinya Kapal-kapal Inggris. Adegan yang dimaksud adalah seperangkat tanya jawab antara para pemain. Adapun pertanyaan dan jawaban yang harus dilontarkan dalam permainan tersebut adalah sebagai berikut :

    Tanya: Peu kapai nyo? (Kapal apa ini?)
    Jawab: Kapai Inggreh. (Kapal Inggris)
    Tanya: Pei ji peuding? (Apa muatannya?)
    Jawab: Ate tapeh. (Hati Sabut Kelapa.)

    Sejarah

    Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan. Seperti telah diketahui, bahwa asal nama permainan ini tim peneliti belum menemukan data-data yang kongkrit, begitu pula dengan sejarah perkembangan permainan ini dari masa ke masa belum dapat dipastikan. Namun, menurut tradisi lisan, permainan ini sudah cukup lama dikenal dan cukup popuier dalam masyarakat Aceh, sehingga para orang tua di kampung-kampung umumnya masih dapat mengucapkan kata-kata tanya jawab dalam adegan permainan tersebut. Karena disebut-sebut nama Inggris, permainan ini dikenal di Aceh sejak rakyat Aceh berkenalan dengan bangsa Inggris. Kontak pertama antara Inggris dengan Aceh terjadi pada permulaan abad XVII dengan datangnya dua buah kapai Inggris ke Kerajaan Aceh pada tahun 1602.

    Pemain

    Jumlah pemain untuk permainan ini berkisar antara 5 sampai 6 orang, dan umumnya berumur antara 8 sampai 12 tahun. Permainan dapat dilakukan baik oleh anak laki-laki maupun anak wanita, tetapi jarang terjadi percampuran antara anak-anak laki dengan wanita. Seperti telah disebutkan di atas, umumnya para pemain ini terdiri atas anak-anak petani, tetapi pada bulan puasa (Ramadan) anak-anak dari kelompok sosial lainnya, misal kelompok pedagang, pegawai, dan sebagainya ikut bermain juga. Jadi, dilihat dari segi pelapisan sosial permainan ini tidak hanya dilakukan oleh anak-anak kelompok rakyat biasa saja, tetapi juga dilakukan oleh anak-anak bangsawan, terutama pada bulan puasa (Ramadan).

    Perlengkapan Permainan

    Satu-satunya alat yang digunakan untuk permainan ini adalah kain sarung atau sejenisnya, yang besarnya dapat menutupi tubuh salah seorang pemain bila berjongkok. Kain ini tidak tipis, tetapi tebal yang tidak tembus bila digunakan untuk melihat. Selain kain, tidak ada alat lainnya yang digunakan dalam permainan ini. Namun, untuk tempat berlangsungnya permainan, masih diperlukan suatu tempat yang agak luas, biasanya berlangsung di depan-depan Meunasah atau di halaman-halaman rumah.

    Jalannya Permainan

    Seperti telah disebutkan di atas, permainan terdiri atas 5 atau 6 orang. Setelah jumlah peserta (5 atau 6 orang), maka dicari suatu tempat atau tanah yang agak lapang atau berumput (yang sedikit bersih). Setelah semuanya berkumpul dan kain untuk dipakai sebagai penutup telah tersedia (biasanya kain dari salah seorang pemain yang dianggap memenuhi syarat), maka dilakukanlah pemilihan seorang juri di antara mereka untuk menjadi wasit/juri atau sebagai pengamat/pengawas permainan. Selanjutnya melalui suatu undian yang disaksikan oleh juri (undian dengan tangan atau yang dikenal dengan nama ngasut), maka ditetapkan salah seorang diantara pemain untuk menebak siapa orang yang pertama ditutup dengan kain oleh wasit/juri.

    Si penebak pertama ini menyingkir dulu, kemudian setelah juri selesai menutup orang yang akan ditebak dengan kain, baru si penebak dipanggil. Orang yang ditebak (yang ditutup dengan kain) sikapnya setengah berjongkok. Si penebak yang ditebak tidak boleh mengajukan pertanyaan dan jawaban yang menyimpang dari yang telah ditetapkan. Pertanyaan tersebut adalah seperti yang telah dikemukakan di atas, yaitu menanyakan kepada orang yang jongkok: peu kapai nyo? Jawab: kapai Inggreh, kemudian dilanjutkan bertanya peu ji peuding? Jawabnya ate tapeh. Adapun jawaban yang diberikan dengan suara yang kecil saja, sehingga susah ditebak siapa yang berada di bawah kain itu. Jika belum dapat ditebak atau belum jelas siapa orang itu dapat dilanjutkan dengan satu pertanyaan lagi, yaitu dengan menyuruh yang ditebak itu bersuara seperti suara ayam. Kata-kata untuk ini, yaitu cuba kuuk sigo? Artinya coba berkokok sekali? Kemudian yang ditebak bersuara seperti suara ayam kekuruyuk. Dan jika belum juga dapat ditebak, makai jolen juri diizinkan memegang tempat-tempat tertentu, yaitu kuping, kepala, dan hidung. Setelah selesai, juri menanyakan siapa orang yang ditutup itu. Jika masih juga tidak diketahui, maka si penebak dianggap kalah. Dan permainan ini dilanjutkan dengan mengulangi undian seperti semula. Akan tetapi, jika tebakannya tepat, yang menebak keluar sebagai pemenang, dan yang kalah mendapat giliran untuk menebak.

    Waktu Pelaksanaan

    Umumnya permainan ini dilakukan pada malam hari pada saat bulan purnama, antara pukul 9 sampai pukul 10 malam, bahkan pada saat-saat tertentu atau pada malam-malam libur (malam Minggu atau malam hari besar lainnya) dilakukan hingga pukul 11 malam. Bila bulan puasa (Ramadhan) dilakukan tidak hanya pada saat bulan purnama, tetapi setiap malam antara pukul 9 sampai pukul 11 malam. Biasanya jika bulan pumama serta cuaca tidak mendung, para orang tua si anak khususnya orang tua perempuan (Ibu) ke luar rumah untuk menumbuk padi, dilakukan baik di bawah rumah maupun di tempat-tempat lain yang khusus untuk itu di dekat rumah, bersama-sama para tetangga yang juga melakukan pekerjaan serupa. Pada saat inilah anak-anak (setelah mereka pada malam yang sama selesai mengaji di Meunasah atau di rumah-rumah Teungku tempat pengajian) gunakan untuk melakukan permainan ini.

    Manfaat

    Permainan ini untuk melatih pendengaran para pemainnya. Mereka harus dapat membedakan dan menentukan pelbagai suara termasuk suara orang. Karena itu, permainan ini selain bersifat rekreatif juga bersifat edukatif, yaitu melatih pendengaran. Seperti telah disebutkan bahwa permainan ini dilakukan pada malam hari, pada saat orang tua mereka (Ibu) melakukan pekerjaan menumbuk padi. Hal ini banyak membawa pengaruh bagi anak-anak yang melakukan permainan tersebut, yaitu mereka mengerti akan pekerjaan Ibu-ibu mereka.
  • Perangko Permainan Anak Tradisional Edisi Tahun 2001 (https://filatelisindonesia.wordpress.com)

    Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam mempunyai unsur-unsur kebudayaan yang khas di antaranya permainan tradisional anak-anak. Permainan tradisional yang terdapat di daerah ini merupakan khasanah budaya yang telah mereka terima dari generasi sebelumnya. Hal ini merupakan salah satu sarana sosialisasi dari anggota masyarakat yang menjadi pendukungnya. Karena itu, permainan tradisional anak-anak mempunyai arti dan kebudayaan tersendiri di dalam masyarakat.

    Sahabat GWI Indonesia Banget, Alhamdulillah mendapat e-book Permainan Anak-Anak Daerah Istimewa Aceh, penerbitnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Jakarta 1985. Tentunya dimungkinkan ada penambahan bilamana menemukan sumber yang kompeten dan pengurangan bilamana mendapatkan kesamaan bentuk permainannya di daerah lain.

    Semoga bermanfaat.

      1. Kapai-Kapai Inggreh
      3. Pepilo
      4. Kekuriken  
      5. Kis-kisen
      6. Jangut Ngkurik
      7. Meu Geunteut-Geunteut
      8. Ghieng-Ghieng Asee
      9. Meu Een Aceue
    10. Meu Creek
    11. Meu Som-som Aneuk
    12. PehKayee
    13. Meu Som-som Talo
    14. Meuen Geuti
    15. Mesen-mesen
    16. Meupet-pet Nyet
    17. Meuen Kom
    18. Meu Een Kandang
  • Ilustrasi Daplang, bermain layang-layang malam hari

    Bermain layang-layang pada saat hari sedang terang sudah umum dilakukan oleh banyak orang, namun bagaimana jadinya jika menerbangkannya pada malam hari. Inilah yang dilakukan oleh warga Dusun Randu Desa Kaliagung Kecamatan Sentolo di lapangan Banyunganti Lor. Uniknya lagi, para pemain rata-rata berusia dewasa.

    Daplangan atau layang-layangan tradisional di kulon progo sudah mulai nampak di lapangan banyunganti lor dibawa oleh para penerbangannya. Bermodal tali tambang sepanjang 300 sampai 500 meter, tinggal menunggu hari berganti gelap untuk menerbangkannya ke langit.

    Yang membuat berbeda dari layangan pada umumnya adalah, warga menambahkan aksesoris lampu led beraneka warga di pinggir layangannya sehingga terlihat indah saat berkedip. Hanya dengan 100 ribu rupiah, seseorang sudah mendaptkan layangan daplangan selebar 3 meter, instalasi lampu led dan dua buah baterai handphone sebagai tenaga listriknya.

    Para pemain layangan ini justru dilakukan oleh para pemuda dan bapak-bapak setelah selesai berladang dan merumput untuk ternaknya. pengisi waktu sore hari untuk bermain bersama anak-anknya adalah bermain layang-layang. Setelah adzan magrib berkumandang, kini tibanya layang-layang diterbangkan. tidak setiap saat permaianan tradisional ini bisa diterbangkan karena harus menunggu angin kencang untuk mengangkat layang-layang seberat 3 kilogram ke udara.

    Bermain layang-layang malam hari (https://nelva-amelia.blogspot.com)

    Menurut Sarwoko warga Dusun Randu, penggunaan lampu di led untuk menandakan posisi layangan ada disebelah mana saat terbang ke langit.

    ”Jika tidak mengetahui keberadaannya, maka sangkutan atau tabrakan antar layangan dapat terjadi jika udara bergerak ke arah lain,” ujarnya.

    Hal serupa juga diungkapkan oleh Karyono Warga Desa Kaliagung, kedip lampu led di malam hari memberikan sensasi tersendiri apalagi jika layangan sudah terbang ke udara.

    ”Beragam pola dibuat oleh setiap orang untuk menandakan kepemilikan layangan bahkan menjadi pamor tersendiri bagi pemilik layangan,” tukasnya.

    Layang-layang berkedip terus diterbangkan oleh pemiliknya hingga pagi hari atau angin tak berhembus lagi. biasanya jatuh di ladang seseorang dan tersangkut di pohon, tak akan hilang diambil seseorang. Permainan tradisional layangan daplang berkedip akan terus dimainkan hingga musim kemarau berakhir.


    Sumber: Kulonprogonews

Comments

The Visitors says