PESONA WISATA INDONESIA

welcome to our blog



in a way, articles can also be described as a type of adjectives as they also tell us something about the nouns, like adjectives.

Articles are found in many Indo-European, Semitic, and Polynesian languages but formally are absent from some large languages of the world, such as Indonesian, Japanese, Hindi and Russian.

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

  • Rumah Adat atau Bumi Adat Cikondang (https://www.travelmatekamu.com)

    Kampung Adat Cikondang secara administratif terletak di dalam wilayah Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, berada di perbukitan Bandung Selatan di ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut.

    Jarak dari Pusat Kota Bandung ke Kampung Adat Cikondang ini sekitar 38 Kilometer, sedangkan dari pusat Kecamatan Pangalengan sekitar 11 Kilometer. Dari Kota Bandung ke arah Selatan melewati Kecamatan Banjaran dan Kecamatan Cimaung.

    Jarak dari ruas jalan Bandung-Pangalengan yang berada di wilayah Kampung Cibiana ke Kampung Cikondang satu kilometer. Sedang dari jalan komplek perkantoran PLTA Cikalong, melewati bendungan dengan tangga betonnya, selanjutnya melalui Kantor Desa Lamajang sekitar satu setengah kilometer.

    Sejarah

    Konon mulanya di daerah ini ada seke (mata air) yang ditumbuhi pohon besar yang dinamakan Kondang. Oleh karena itu selanjutnya tempat ini dinamakan Cikondang atau kampung Cikondang. Nama itu perpaduan antara sumber air dan pohon Kondang; “Ci” berasal dari kependekan kata “cai” artinya air (sumber air), sedangkan “kondang” adalah nama pohon tadi.

    Untuk menyatakan kapan dan siapa yang mendirikan kampung Cikondang sangat sulit untuk dipastikan. Namun, masyarakat meyakini bahwa karuhun (Ieluhur) mereka adalah salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Mereka memanggilnya dengan sebutan Uyut Pameget dan Uyut Istri yang diyakini membawa berkah dan dapat ngauban (melindungi) anak cucunya.

    Kapan Uyut Pameget dan Uyut Istri mulai membuka kawasan Cikondang menjadi suatu pemukiman? Tidak ada bukti konkrit yang menerangkan kejadian itu, baik yang tertulis maupun lisan. Menurut perkiraan seorang tokoh masyarakat, Bumi Adat diperkirakan telah berusia 200 tahun. Jadi, diperkirakan Uyut Pameget dan Uyut Istri mendirikan pemukiman di kampung Cikondang kurang Iebih pada awal abad ke-XIX atau sekitar tahun 1800.

    Tradisi

    Tempat minum dari batok kelapa (https://tugaskab.blogspot.co.id)

    Kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Cikondang adalah Islam. Masyarakat di sekitar Kampung Cikondang juga sangat memegang teguh budaya mereka. Dapat dilihat dari rumah adat Kampung Cikondang yang tidak diperbolehkan diisi barang-barang elektronik, seperti televisi, radio, listrik, dan lain-lain bahkan dalam memasak alat-alat yang digunakan pun masih menggunakan tradisional, yang dinamakan “hau” atau yang disebut tungku. Gelasnya pun juga berasal dari batok kelapa yang disebut “tik”, kita tidak dapat menemukan gelas yang terbuat dari kaca ataupun plastik seperti yang biasa kita temukan. Untuk penerangannya masyarakat Kampung Cikondang menggunakan lentera dan tidak menggunakan listrik.

    Rumah Adat (Bumi Adat)

    Bagian dalam Rumah Adat atau Bumi Adat Cikondang (https://tugaskab.blogspot.co.id)

    Apabila masuk kedalam rumah adat Kampung Cikondang, hawa dingin akan terasa dalam rumah tersebut, mengingat musim hujan dan rumah Kampung Cikondang yang berasal dari anyaman bambu dan ijuk. Rumah adat Kampung Cikondang juga dinamakan dengan bumi adat. Bahkan rumah tersebut tidak pernah diubah sejak dahulu dan tidak pernah direnovasi, hal itu dianggap sebagai menjaga kelestarian budaya Kampung Cikondang. Ketika kita masuk kedalam rumah adat Kampung Cikondang terdapat larangan yang harus kita ingat bahwa kita tidak boleh menginjak pijakan yang ada di rumah adat. Saat di dalam rumah adat Kampung Cikondang pun tidak diperbolehkan duduk sembarangan, khususnya wanita tidak boleh mengangkat kaki, dan tidak boleh selonjoran, hal ini dianggap tidak sopan apabila duduk secara sembarangan maka dari itu biasanya masyarakat duduk dengan kaki dilipat ke belakang.

    Ruang Tamu Rumah Adat atau Bumi Adat Cikondang (https://tugaskab.blogspot.co.id)

    Didalam rumah adat Kampung Cikondang juga terdapat kamar yang tidak ditutup dengan pintu melainkan hanya dengan kain. Namun kamar tersebut tidak boleh dimasuki mengingat kamar tersebut adalah kamar dari hanom, juru kunci kampung Cikondang. Selain itu apabila kita melihat ke atas kita juga dapat melihat ruang, ruang tersebut yang menjadi tempat penyimpanan hasil tani masyarakat Kampung Cikondang. Hasil tani kampung Cikondang sebagian akan disimpan untuk digunakan sehari-hari,sebagai bahan “wuku taun” atau ulang tahun dan juga dijual. Peralatan-peralatan masak yang digunakan pun juga disimpan disekitar kayu-kayu yang dibuat masyarakat Kampung Cikondang. Mata pencaharian masyarakat Kampung Cikondang adalah pertanian, yang ditanam oleh masyarakat Kampung Cikondang adalah padi dan bawang.

    Kamar mandi (https://tugaskab.blogspot.co.id)

    Kamar mandi yang digunakan pun juga masih sangat sederhana, kamar mandi tersebut hanya dibalut dengan anyaman-anyaman bambu dan ijuk yang sama seperti digunakan untuk rumah adat Kampung Cikondang, lantainya pun hanya terbuat dari kayu. Tidak hanya itu, apabila kita melihat kebawah kita dapat melihat empang yang sangat luas. Empang tersebut lah tempat mengumpulnya kotoran tersebut. Walaupun sejenak terlihat kurang nyaman namun itulah yang digunakan oleh masyarakat Kampung Cikondang, airnya pun terasa sejuk menyentuh tangan. Namun satu hal yang telah diikuti masyarakat Kampung Cikondang adalah masyarakat tersebut menggunakan gayung untuk mengambil air.

    Kuliner

    Beragam makanan (Cemilan) Kampung Adat Cikondang (https://tugaskab.blogspot.co.id)

    Kita dapat melihat berbagai jenis makanan khas Kampung Cikondang, setidaknya terdapat 45 macam makanan khas yang dimiliki Kampung Cikondang, yang terdiri dari opak, raginang, klontong, teng-teng, ampeang, dan lain-lain. Makanan khas kampung Cikondang tersebut biasanya disajikan untuk tamu-tamu yang datang berkunjung Kampung Cikondang.
  • Kampung Adat Dukuh Cikelet (https://digarut.com)

    Kampung Dukuh terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Perkampungan adat yang berjarak sekitar 1,5 km dari Desa Cijambe atau 120 km arah selatan dari pusat Kota Garut, bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum hingga Kecamatan Cikelet, dilanjutkan dengan jasa angkutan ojeg sampai lokasi.

    Sejarah

    Rumah penduduk di Kampung Adat Dukuh (https://www.infogarsela.com)

    Rumah Adat Kampung Dukuh berdiri sekitar tahun 1700-an dengan jumlah rumah 40 rumah adat sunda yang sangat sederhana, disini memiliki sumber mata air yang dikeramatkan, makam keramat, daerah tutupan, larangan, cadangan, garapan dan titipan. Kampung adat Dukuh ini dipimpin oleh seorang kuncen untuk urusan adat, di Kampung ini tidak boleh menggunakan peralatan modern yang seperti saat ini di kalangan masyarakat indonesia dengan berbagai kemajuan jaman. Luas kampung dukuh kurang lebih 1,5 Ha, terdiri dari tiga bagian atau daerah, yaitu dukuh dalam, dukuh luar dan makam karomah.

    Jika anda akan berkunjung ke kampung ini kita perlu mengetahui pantangan-pantangan yang ada di kampung dukuh, seperti antara laki-laki dan perempuan tidak boleh terlalu dekat, tidak boleh bicara ketika sedang makan, tidak boleh menyelonjorkan kaki kearah utara, harus memakai baju polos (tidak boleh bercorak atau bergambar) ketika berziarah, dan tidak boleh menggunakan peralatan elektronik.

    Kondisi

    Rumah penduduk di Kampung Adat Dukuh (https://www.infogarsela.com)

    Kampung Dukuh merupakan desa dengan suasana alam dan tradisi yang dilandasi budaya religi yang kuat. Masyarakat Kampung Dukuh mempunyai pandangan hidup yang berdasarkan pada sufisme Mazhab Imam Syafii. Landasan budaya tersebut berpengaruh pada bentukan fisik desa tersebut serta adat istiadat masyarakat. Masyarakat Kampung Dukuh sangat menjunjung keharmonisan dan keselarasan hidup bermasyarakat. Paham ini berpengaruh pada bentukan bangunan di Kampung Dukuh yang tidak menggunakan dinding dari tembok dan atap dan genteng serta jendela kaca. Hal ini menjadi salah satu aturan yang dilatarbelakangi alasan bahwa hal yang berbau kemewahan akan mengakibatkan suasana hidup bermasyarakat menjadi tidak harmonis.

    Di kampung ini tidak diperkenankan adanya listrik dan barang-barang elektronik lainnya yang dipercaya selain mendatangkan manfaat juga mendatangkan kemudaratan yang tinggi pula. Alat makan yang dianjurkan terbuat dari pepohonan seperti layaknya bangunan, misalnya bambu batok kelapa dan kayu lainnya. Material tersebut dipercaya lebih memberikan manfaat ekonomis dan kesehatan karena bahan tersebut tidak mudah hancur atau pecah dan dapat menyerap kotoran.

    Peribadahan

    Masjid di Kampung Adat Dukuh (https://picssr.com)

    Ada keunikan tersendiri untuk shalat wajib lima waktu disini, yaitu panggilan untuk warga kampung dengan perantara sebuah bedug besar yang ada di masjid kampung adat dukuh. Pukulan yang pertama bedug dipukul satu kali, ini menandakan seluruh warga kampung bersiap-siap pergi ke masjid, pukulan kedua bedug dipukul dua kali menandakan jama’ah sudah ada di dalam masjid untuk melakukan shalat sunnah. Dan pukulan terakhir bedug ditabuh tiga kali menandakan semua sudah siap untuk melaksanakan shalat berjamaah.

    Bangunan masjid ini terbuat dari bambu dan beratapkan ijuk, alang-alan atau juga tepus, dan ini mirip seperti halnya rumah warga. Dan yang membedakan masjid dan rumah warga ialah ukuran masjid yang lebih besar dari rumah warga.

    Ada juga toilet umum yang juga sederhana, terbuat dari bambu yang dirangkai dan memiliki beberapa pancuran. Dibawah toilet ini terdapat sebuah kolam ikan yang cukup besar. Ikan-ikan ini digunakan sebagai pengurai kotoran manusia yang dibuang langsung dari toilet ke kolam.

    Matapencarian

    Rumah penduduk di Kampung Adat Dukuh (https://www.infogarsela.com)

    Mata pencaharian utama masyarakat kampung dukuh adalah bertani. Model pertanian yang biasa di lakukan yaitu model pertanian lahan basah (sawah) dan pertanian lahan kering (huma atau berladang). Masyarakat kampung dukuh dalam bertani pada lahan basah (sawah) biasanya menggunakan lahan yang terletak pada pinggir-pinggir sungai, dan lahan yang dapat digunakan untuk cara bertani ini cukup sedikit.

    Sedangkan untuk bertani pada lahan kering itu cukup luas, karena biasanya masyarakat adat kampung dukuh akan mebukah hutan untuk dijadikan lahan untuk berladang atau bertani. Karena lahan ini cukup luas. maka masyarakat biasanya banyak yang melakukan bertani pada lahan kering, yaitu seperti ngehuma, berladang. Selain itu juga masyarakat kampung adat dukuh sering memanfaatkan hutan sekitarnya, untuk memenuhi kekebutuhan hidup. Biasanya dimanfaatkan untuk mengambil kayu bakar, mengambil bahan untuk membuat rumah. Hal ini biasa dilakukan oleh masyarakat kampung dukuh sebelum masuknya jawatan kehutanan atau perhutani. Dimana setelah masuknya perhutani ke wilayah adat dukuh, masyarakat menjadi tidak punya akses terhadap hak ulayat mereka.

    Seni Budaya

    Seni Budaya yang ada di Kampung Adat Dukuh antara lain:

    Terbang Sejak

    Terbang Sejak (https://danipicture.wordpress.com)

    Suatu bentuk kesenian musik yang dimiliki kampung adat dukuh yang berupa vokal dan iringan, dalam ilmu musik barat disebut dengan Kantata. Musik ini merupakan bentuk musik satu bagian pada lagam carang dan bentuk musik satu bagian pada lagam kereup. Kesenian Terbang Sejak dalam sejarahnya selalu dimainkan dalam proses takbiran dan kegiatan penyambutan ritual keagamaan, lirik, kegiatan ibadah, terbang sejak umumnya terdiri dari beberapa orang, tiap irama diikuti Lirik lagu yang dinyanyikan isinya tentang keagamaan (islam), puji-pujian kepada Allah SWT juga kepada Nabi Muhammad SAW (sholawatan). dan nyanyi-nyanyian bahasa Sunda yang isinya berupa pepatah dan diiringi oleh terbang (rebana), dog-dog dan lain-lain. Kesenian ini dilaksanakan pada tanggal 12 maulud yang dilakukan oleh orang-orang tua kampung adat dukuh. Biasanya kesenian ini dipertontonkan saat-saat tertentu, seperti pada syukuran atau pada saat aqiqohan. Terbang Sejak hampir mirip dengan tagonian yang banyak dijumpai di daerah-daerah pusat penyebaran Islam.

    Shalawatan

    Upacara adat atau salah satu bentuk ritual keagamaan yang dilakukan masyarakat kampung adat dukuh yang dilaksanakan setiap hari jumat di rumah kuncen. Shalawatan kamilah sejumlah 4444 yang dihitung menggunakan batu. Sebelasan dilakukan setiap tanggal 11 dalam perhitungan bulan Islam dan membaca Marekah. ritual keagamaan ini ditujukkan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dan nabi Muhammad SAW.

    Jaroh

    Suatu ritual adat yang biasa dilakukan masyarakat kampung adat dukuh atau dari luar untuk berziarah ke makam syekh Abdul Jalil tetapi sebelum melakukan jaroh terlebih dahulu melakukan ritual adat cebor opat puluh dan mengambil air wudhu serta melepaskan semua perhiasan dan memakai baju yang tidak bercorak atau polos. Jaroh ini biasa dilakukan pada hari sabtu. ritual ini ditujukkan sebagai rasa penghormatan kepada leluhur.

    Cebor opat puluh

    Ritual adat yang sangat unik yang dilakukan oleh masyarakat kampung adat dukuh maupun orang luar yaitu mandi dengan empat puluh kali siraman dengan air dari pancuran dan dicampur dengan air khusus yang telah diberi doa-doa yang dilakukan di jamban. ritual ini ditujukan untuk membersihkan diri sebelum melakukan kegiatan jaroh.

    Moros

    Kebiasaan unik masyarakat kampung adat dukuh yaitu dengan memberikan hasil-hasil bumi/pertanian mereka kepada aparat pemerintah seperi lurah dan camat. kegiatan ini dilakukan sebagai rasa penghormatan masyarakat kampung adat dukuh kepada aparat pemerintahan.

    Manuja

    Ritual adat yang biasa dilakukan masyarakat kampung dukuh yaitu menyerahkan bahan makanan dari hasil bumi kepada kuncen untuk di berkahi. Ritual ini biasa dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Ritual ini bertujuan untuk perayaan dan rasa syukur masyarakat kampung adat dukuh.

    Tilu Waktos

    Sebuah kegiatan adat atau Ritual budaya yang biasa dilakukan oleh kuncen kampung adat dukuh yaitu dengan membawa makanan kedalem bumi alit atau bumi lebet untuk tawasul. Kuncen membawa sebagian makanan ke bumi alit lalu berdoa. Ritual ini biasa dilakukan pada tanggal 1 syawal, 10 rayagung, 12 maulud dan 10 muharram. ritual ini ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kampung dukuh kepada Allah SWT karena telah diberikan rezeki yang berlimpah.

    Nyanggakeun

    Nyanggakeun ritual kebudayaan yang unik yang dilakukan masyarakat kampung adat dukuh yaitu dengan menyerahkan sebagian hasil pertanian kepada sang kuncen untuk diberkahi. Masyarakat kampung adat dukuh tidak boleh memakan hasil panennya sebelum melakukan ritual nyanggakeun ini. Ritual ini ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen pertanian mereka.

    Ngahaturan Tuang

    Sebuah ritual budaya yang dilakukan masyarakat kampung adat dukuh atau pengunjung yang berasal dari luarkampung adat dukuh yang memiliki keinginan-keinginan tertentu seperti perkawinan, jodoh, masalah rumah tangga, kelancaran dalam usaha yaitu dengan memberikan makanan seperti garam, ayam, kelapa, telur ayam, kambing, atau yang sesuai kemampuan orang tersebut. upaca adat ini semacam seserahan.
  • Pintu masuk Kampung Adat Cireundeu Cimahi (https://thiscenicworld.blogspot.co.id)

    Kampung Adat Cireundeu terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kotamadya Cimahi, Propinsi Jawa Barat, berada di lembah Gunung Kunci, Gunung Cimenteng dan Gunung Gajahlangu.

    Cireundeu berasal dari nama “pohon reundeu”, karena sebelumnya di kampung ini banyak sekali populasi pohon reundeu. Pohon reundeu itu sendiri ialah pohon untuk bahan obat herbal, hingga kampung ini di sebut Kampung Cireundeu.

    Masyarkat Kampung Adat Cireundeu bercocok tanam Singkong (https://infocmh.blogspot.co.id)

    Kampung Adat Cireundeu sendiri tidak memposisikan desanya sebagai Objek Daya Tarik Wisata (ODTW), tetapi lebih fokus pada desa yang masih memelihara tradisi lama yang telah mengakar yang diwariskan oleh tetua adat dulu. Masyarakat Kampung Cireundeu beranggapan bahwa sekecil apapun filosopi kehidupan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka wajib untuk dipertahankan.

    Kondisi Masyarakat

    Terdiri dari 50 kepala keluarga atau 800 jiwa, yang sebagia besar bermata pencaharian bertani ketela. Kampung Adat Cireundeu sendiri memiliki luas 64 ha terdiri dari 60 ha untuk pertanian dan 4 ha untuk pemukiman.

    Masyarakat Kampung Adat Cireundeu memiliki keadaan sosial yang terbuka dengan masyarakat di luar kampung. Terbukti dari sistem kekerabatan atau sistem perkawinan dan mata pencaharian masyarakat Kampung Adat Cireundeu sebagian besar bercocok tanam. Kebanyakan masyarakat Cireundeu tidak suka merantau atau berpisah dengan orang-orang sekerabatnya. Selain itu, pola pemukiman pada masyarakat adat Cireundeu memiliki pintu samping yang harus menghadap ke arah timur, ini bertujuan supaya cahaya matahari masuk kedalam rumah.

    Prinsip Hidup dan Makanan Pokok

    Hasil bumi Kampung Adat Cireundeu Cimahi (https://jong12adventure.wordpress.com)

    Masyarakat Kampung adat Cireundeu berpedoman pada prinsip hidup yang mereka anut yaitu: “Teu Nyawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat” yang maksudnya adalah tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal dapat menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal kuat. Dengan maksud lain agar manusia ciptaan Tuhan ntuk tidak ketergantungan pada satu saja, misalnya sebagai bahan makanan pokok negara Indonesia yaitu beras, namun pandangan masyarakat Kampung Adat Cireundeu memiliki alternatif dalam bahan makanan pokok yaitu ketela atau singkong.

    Eggroll dari singkong (https://thiscenicworld.blogspot.co.id)

    Beralihnya makanan pokok masyarakat adat Kampung Cireundeu dari nasi beras menjadi nasi singkong di mulai kurang lebih tahun 1918, yaitu di pelopori oleh Ibu Omah Asnamah, Putra Bapak Haji Ali yang kemudian di ikuti oleh saudara-saudaranya di kampung Cireundeu. Ibu Omah Asnamah mulai mengembangkan makanan pokok non beras ini, berkat kepeloporannya tersebut Pemerintahan melalui Wedana Cimahi memberikan suatu penghargaan sebagai “Pahlawan Pangan”, tepat nya pada tahun 1964.

    Kepercayaan dan Budaya

    Sebagian besar masyarakatnya menganut dan memegang teguh kepercayaan yang disebut Sunda Wiwitan. Ajaran Sunda Wiwitan ini pertama kali dibawa oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan pada tahun 1918. Salah satu upacara terbesar oleh masyarakat Kampung Adat Cierundeu yaitu 1 Sura. Bagi masyarakat Kampung Adat Cireundeu perayaan 1 Sura layaknya lebaran bagi kaum muslim. Sebelum tahun 2000, saat perayaan mereka selalu menggunakan pakaian baru. Namun setelah adat mereka dilembagakan sehingga pada saat kaum laki-laki menggunakan pakaian pangsi warna hitam dan ikat kepala dari kain batik. Sedangkan untuk kaum perempuan menggunakan pakaian kebaya berwarna putih. Gunungan buah-buahan yang dibentuk menyerupai janur, nasi tumpeng rasi, hasil bumi seperti rempah-rempah dan ketela yang menjadi pelengkap wajib dalam ritual ini. Selain itu kesenian kecapi suling, ngamumule budaya sunda serta wuwuhan atau nasihat dari Sesepuh atau ketua Adat menjadi rukun dalam upacara 1 Sura.

    Masyarakat adat Cireundeu sangat memegang teguh kepercayaannya, kebudayaan serta adat istiadat mereka. Mereka memiliki prinsip “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” arti kata dari “Ngindung Ka Waktu” ialah kita sebagai warga kampung adat memiliki cara, ciri dan keyakinan masing-masing. Sedangkan “Mibapa Ka Jaman” memiliki arti masyarakat Kampung Adat Cireundeu tidak melawan akan perubahan zaman akan tetapi mengikutinya seperti adanya teknologi, televisi, alat komunikasi berupa hand phone, dan penerangan. Masyarakat ini punya konsep kampung adat yang selalu diingat sejak zaman dulu, yaitu suatu daerah itu terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

    • Leuweung Larangan (hutan terlarang) yaitu hutan yang tidak boleh ditebang pepohonannya karena bertujuan sebagai penyimpanan air untuk masyarakat adat Cireundeu khususnya. 
    • Leuweung Tutupan (hutan reboisasi) yaitu hutan yang digunakan untuk reboisasi, hutan tersebut dapat dipergunakan pepohonannya namun masyarakat harus menanam kembali dengan pohon yang baru. Luasnya mencapai 2 hingga 3 hektar.
    • Leuweung Baladahan (hutan pertanian) yaitu hutan yang dapat digunakan untuk berkebun masyarakat adat Cireundeu. Biasanya ditanami oleh jagung, kacang tanah, singkon atau ketela, dan umbi-umbian.

    Arsitektur Bale 

    Bale Adat Kampung Adat Cireundeu Cimahi (https://jong12adventure.wordpress.com)

    Bale sendiri memiliki arsitektur yang mempunyai arti khusus, yaitu:

    • Bentuk atap yang lurus ke atas yang berarti masyarakat Cireundeu memiliki satu tujuan kepada Tuhan. Di Kampung Adat Cireundeu sendiri masyarakatnya bersifat terbuka terhadap agama atau kepercayaan selain yang mereka anut, mereka memandang perbedaan terutama dalam hal kepercayaan adalah sesuatu keindahan. 
    • Terdapat empat helai kain dengan warna yang berbeda yang mengandung arti unsur-unsur bumi, terdiri dari warna hitam mempunyai makna “bumi”, warna kuning bermakna “angin”, warna putih “air”, dan yang terakhir merah bermakna api.

    Aksesibilitas

    Aksesibilitas dapat di tempuh sekitar 1 jam 30 menit dari alun-alun Kota Cimahi, sedangkan dari alun-alun Bandung bisa menghabiskan waktu tempuh 2 jam.

    Berikut ini angkutan umum yang dapat digunakan dari alun-alun Kota Cimahi, yaitu:

    • Naik angkutan umum jurusan Cimahi-Leuwi Panjang atau Cimahi-Stasiun Hall, kemudian turun di bawah jembatan Cimindi atau pertigaan Cibeureum.
    • Lanjut dengan naik angkutan warna hijau-kuning dengan jurusan Cimindi-Cipatik turun di bunderan Leuwigajah.
    • Kemudian naik angkutan berwarna biru langit dengan jurusan Cimahi-Leuwigajah-Cangkorah turun di pertigaan ke arah Cireundeu.
    • Terakhir, naik angkutan motor (ojeg) hingga pintu gerbang Kampung Adat Cireundeu. Sedangkan dari arah Bandung dapat menggunakan angkutan umum Stasiun Hall-Cimahi, turun di pertigaan Cibeureum dan naik angkutan yang serupa seperti di atas.

    Informasi lebih lanjut hubungi

    Kampung Adat Cireundeu 
    Kelurahan Leuwigajah, Kecamtan Cimahi Selatan, Kotamadya Cimahi, Jawa Barat
    Dengan alamat (d/a)
    Pengelola Dinas Koperasi, UMKM, Perdagang dan Pertanian
    Seksi Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cimahi
    Jln. Rd. Demang Hardjakusuma Blok Jati Cihanjuang, Cimahi
    Telp.: (62) 22 6631859
  • Pemandangan Tana Toraja (https://toraja-it.blogspot.co.id)

    Kampung Adat Toraja Sillanan terletak di Desa Sillanan, Kecamatan Gandangbatu Sillanan, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, sebuah perkampungan tradisional masyarakat Toraja, sekitar 35 kilometer ke arah selatan Rantepao, atau sekitar 18 Km dari Makale, ibukota Kabupaten Tana Toraja (Tator).


    Kampung adat Sillanan adalah sebuah desa kecil yang damai di wilayah Tana Toraja. Desa ini cukup unik karena terletak di lereng gunung batu atau gunung kapur dengan hampir seluruh wilayah desa tertutup bebatuan. Menurut narasumber sebelum masuknya agama, orang-orang Toraja menganut paham animisme dan kepercayaan asli yang bernama Parandangan.


    Di tempat ini pula, kita dapat melihat beberapa rumah adat tongkonan yang di jadikan pusat pemerintahan adat ada masa lampau. Setiap tongkonan memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam pemerintahan adat tersebut. Warga desa sillanan sebagian besar adalah petani yang memelihara tanaman kopi, sayur-sayuran, hingga padi di celah-celah sempit di antara bebatuan.

    Rumah Adat

    Rumah adat Kampung Adat Toraja Sillanan (https://alamfay.blogspot.co.id)

    Tongkonan merupakan rumah yang diwariskan secara turun temurun oleh keluarga atau marga suku Toraja. Tongkonan terbuat dari kayu dan memiliki atap yang terbuat dari daun nipa atau kelapa. Bangunan adat ini selalu dibangun menghadap ke utara, arah yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Jika dilihat dari bagian samping, bentuk atap Tongkonan akan mirip seperti tanduk kerbau.

    Rumah adat Toraja sering disebut Tongkonan sementara Alang merupakan Lumbung. Beberapa rumah Tongkonan dan alang (lumbung padi) yang berusia sangat tua pun masih bisa ditemukan di sini sementara beberapa diantaranya sudah direnovasi akibat termakan usia, bahkan menurut Pak Rante di Sillanan ini masih ada rumah pertama orang Toraja yang di sebut rumah di tokke’ atau rumah yang mengambang. Tongkonan merupakan rumah adat masyarakat Toraja. Kata “Tongkonan” berasal dari bahasa Toraja yaitu “Tongkon” yang berarti duduk.


    Disini terdapat tongkonan yang dikenal dengan istilah "Tongkonan Karua" (Delapan Tongkonan). Tongkonan tersebut mempunyai peran dalam masyarakat adat setempat. Tongkonan Karua terdiri dari: Pangrapa', Sangtanete Jioan, Nosu, Sissarean, Tomentaun, To'barana' digente' Rompona Langsa', To'lo'le Jaoan, dan Karampa' Pangla Padang.

    Sedangkan tongkonan yang tidak masuk dalam Tongkonan Karua, merupakan Tongkonan dengan fungsi khusus yaitu Tongkonan Maruang Banua Sura', Tongkonan Doa' (Pa'palumbangan), Tongkonan Indo' Piso atau Tomanyampan digelar "To Ma'kararona Aluk sola Pemali To Dipalisu Sanda Pati'na". Di depannya terdapat lumbung padi, yang di sebut “ALANG”. Alang adalah tempat orang Toraja menyimpan hasil panen mereka seperti padi. Tiang-tiang lumbung terbuat dari batang pohon palem atau yang biasa di sebut “Bangah” yang licin dan sangat halus, sehingga tikus tidak bisa memanjat masuk ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.


    Orang Toraja menganggap tongkonan sebagai simbol “IBU”, sedangkan alang sebagai “BAPAK”. Tongkonan tidak hanya berfungsi sebagai rumah tinggal, tetapi juga sebagai tempat mengadakan kegiatan soal, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah dan selatan. Bagian utara atau ‘tengalok’ berfungsi sebagai ruang tamu, ruang tidur anak-anak, dan juga tempat meletakkan sesaju. Bagian tengah yang disebut ‘Sali’ berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, tempat menyemayamkan orang mati dan juga sebagai dapur. Dan bagian selatan disebut ‘sumbung’, merupakan ruangan untuk kepala keluarga. Di tempat ini pula tanaman kapas yang dipakai untuk pembuatan kain khas Toraja.

    Pemakaman

    Pemakaman Toraja (https://info-toraja.blogspot.co.id)

    Pemakanan tradisional toraja berupa liang kubur batu di dinding tebing juga dapat ditemukan di desa ini, demikian juga dengan monumen-monumen megalitik sebagai peringatan upacara pemakaman di masa lalu.

    Di kehidupan masyarakat Toraja, kerbau memang dijadikan simbol status social. Ketika keluarga Toraja menyelenggarakan upacara adat pemakaman, mereka akan menyembelih kerbau yang jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga penyelenggara adat. Setelah disembelih, tanduk-tanduk kerbau dipasang pada Tongkonan milik mereka. Semakin banyak jumlah tanduk kerbau pada Tongkonan, berarti semakin tinggi pula status sosial pemiliknya di kalangan masyarakat Toraja.

    Benteng

    Di kampung Sillanan juga terdapat peninggalan sejarah berupa benteng Pertahanan Sillanan yang bernama Tangdi Rompo di puncak bukit batu Sillanan. Benteng ini menurut Pak Rante terbuat dari batu gunung asli yang disusun rapi. Benteng-benteng ini digunakan masyarakat Sillanan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, baik saat perang antar suku di Toraja maupun perang melawan pasukan dari luar Toraja termasuk Belanda. Untuk mencapai lokasi benteng ini harus menempuh satu hari satu malam berjalan kaki dari desa Sillanan.

    Sumur Gunung Tintiri (Bubunna Tintiri Buntu)

    Sumur adat Bubunna tintiri buntu (https://sarubang12.blogspot.co.id)

    Bubunna tintiri buntu merupakan aset terbaik yang dimiliki oleh desa Sillanan. Mata air ini berbeda dari mata air pada umumnya. Sumur ini akan membuat siapa saja yang mencoba akan merasakan kesejukan air awet muda dan umur panjang. Wisatawan yang datang berkunjung di Sillanan tidak pernah melewatkan untuk merasakan dingin dan kesegaran dari air ini. Bahkan banyak yang membawa air ini sebagai cindramata.

    Sumur adat Bubunna tintiri buntu (https://sarubang12.blogspot.co.id)

    Usia sumur ini diperkirakan sama dengan usia perkampungan adat tua Sillanan. Menurut penduduk di desa Sillanan, Bubun Sillanan ini tidak pernah kering meskipun wilayah Toraja dan sekitarnya dilanda musim kemarau panjang. Sumur ini mempunyai kisah-kisah magis tersendiri, Menurut cerita Pak Rante, konon terdapat seekor belut raksasa dibawah sumur ini dan simbol wanita yang terdapat disumur ini diyakini sebagai penjaga sumur tersebut, bahkan si pembuat patung wanita tersebut sampai meninggal dan kehilangan keturunannya karena memahat wajah wanita penjaga sumur gunung tintiri ini.

    Akses

    Jarak Makassar ke Toraja 300 Km lebih, via darat bisa naik bis umum dari Terminal Daya, Makassar atau sewa mobil travel berikut sopirnya. Waktu tempuhnya lebih cepat sekitar 8-9 jam. Via udara dari Bandara Hasanuddin Makassar ke Bandara Pongtiku, dilayani oleh maskapai Dirgantara Air Service (DAS) yang mengoperasikan pesawat jenis Casa 212 dengan kapasitas 24 orang.

    Akomodasi

    Ada beberapa pilihan akomodasi yang dapat Anda inapai di Toraja, antara lain Sahid Toraja Hotel, Toraja Heritage, Toraja Prince, Hotel Indra I, Hotal Indra II, Wisma Bungin, dan Penginapan Makale.

    Rumah makan juga sudah banyak, namun bagi muslim perlu hati-hati karena banyak restoran atau kedai yang menyajikan menu babi. Tapi tak perlu cemas, ada beberapa rumah makan yang dikelola muslim dan menyajikan aneka menu halal seperti nasi goreng, capcay, masakan Jawa, Padang, dan lainnya. Salah satu resto bermenu halal yakni Rumah Makan Hj. Idaman di Jalan Merdeka, Makale, tepatnya di sebelah Masjid Raya Makale yang berarsitektur tua.

  • Kampung Adat Takpala ini berada di Dusun III Kamengtaha, Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapainya dari Bandar Udara Mali, Alor, maka Anda dapat menggunakan ojek. Ada juga kendaraan umum dari Terminal Kalabahi, yaitu ibu kota Kabupaten Alor sekira 20 menit. Pilihan lain adalah memanfaatkan bus jurusan Bukapiting lalu turun di Takalelang untuk kemudian berjalan menuju kampung adat ini sekira 15 menit.

    Sejarah

    Takpala berasal dari dua kata yaitu, Tak yang berarti ada batasnya, sedangkan Pala artinya Kayu. Jadi Takpala berarti Kayu pembatas. Selain itu Takpala juga mempunyai arti kayu Pemukul. Takpala sendiri berasal dari Suku Abui merupakan suku terbesar di Alor, yang biasa disebut juga Tak Abui, dan yang mempunyai arti Gunung Besar.


    Kampung adat Takpala awalnya mendiami pedalaman Gunung Alor tetapi kemudian dipindahkan ke bagian bawah. Alasan pemindahan ini dahulu terkait kewajiban membayar pajak kepada Raja Alor (balsem). Utusan Raja Alor yang hendak memungut pajak kesulitan menjangkau kampung tersebut sehingga akhirnya dipindahkan ke bagian bawah. Adalah Bapak (alm) Piter kafilkae yang menghibahkan tanahnya untuk dijadikan lokasi Kampung Takpala seperti sekarang ini sejak tahun 1940 an.

    Dikenal

    Kampung adat Takpala mencuat dalam daftar kunjungan wisatawan asal Eropa setelah seorang turis warga Belanda bernama Ferry memamerkan foto-foto warga kampung ini tahun 1973. Ia mengambil foto warga Kampung Takpala untuk kalender dan mempromosikan bahwa di Pulau Alor ada kampung primitif. Sejak saat itu Desa Takpala dikenal orang-orang Eropa dan turis pun berdatangan ke kampung ini.


    Kehidupan

    Suku Abui sendiri yang menghuni kampung ini adalah suku terbesar yang mendiami Pulau Alor. Terkadang mereka biasa disebut juga Tak Abui (artinya gunung besar). Meski warga penduduk yang mendiami kampung ini hanya puluhan tetapi sebenarnya keturunan penduduk kampung ini telah tersebar dan telah mencapai ribuan orang. Masyarakat suku Abui dikenal begitu bersahaja dan sangat ramah terhadap pendatang.

    Keseharian suku Abui di Desa Takpala ini adalah memanfaatkan hasil alam terutama hutan dengan berladang atau berburu. Pada saat siang hari otomatis kampung ini terlihat sepi karena sebagian dari mereka akan pergi mencari makanan ke hutan sekaligus berburu. Hasilnya selain dikonsumsi sehari-hari juga dijual di pasar. Makanan aslinya suku Abui umumnya adalah singkong dan jagung. Terkadang mereka mengkonsumsi nasi, akan tetapi dipadukan dengan singkong dan jagung (disebut katemak).

    Tradisi

    Selain itu Kampung Takpala memiliki banyak sekali tradisi, diantaranya adalah masuk kebun atau Potong kebun, Potong kebun dilakukan pada bulan Oktober, dimana kayu-kayu besar diturunkan dan terus dibakar sampai dengan bulan November. Pada bulan Desember mulai tanam. Pada Desember akhir sampai Januari acara cabut rumput yang pertama, sedangkan cabut rumput yang kedua bulan maret-April dimana jagung mulai menguning, dan di bulan Mei sudah patah jagung. Pada tanggal 20 Juni Dimana saat itu ada acara masuk kebun dimulai dan dimulai dengan potong hewan. Dengan segala keunikan dan tradisinya, Desa Takpala sangat menarik untuk dikunjungi.

    Rumah Adat

    Rumah Adat Takpala (https://oldlook.indonesia.travel)

    Rumah adat Takpala merupaka andalan pariwisata dari kampung Takpala. Rumah adat ini berupa rumah panggung dan berbentuk seperti piramida. Rumah adat di Takpala ada 2 macam, yaitu Kolwat yang mempunyai arti Perempuan dan Kanuarwat yang mempunyai arti laki-laki. Masih menurut Pak Martinus, masyarakat Takpala mengklaim bahwa merekalah yang pertama kali membuat rumah bertingkat 4 didunia dimana masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Lantai 1 adalah tempat rapat, lantai 2 tempat tidur dan masak, lantai 3 tempat menyimpan makanan dan lantai 4 untuk menyimpan barang-barang pusaka yang akan dipakai jika ada kegiataan adat.

    Paket Wisata


    Memasuki kawasan Desa Takpala tidak dipungut retribusi tetapi untuk menyaksikan rangkaian tarian adat dan atraksinya maka ada biaya sebesar Rp 1 juta. Ini adalah harga yang sepadan dengan kesempatan melihat langsung beragam tarian paling terkenal dari suku terbesar di Alor. Panorama dari atas bukit di desa ini sangat indah berupa Teluk Benlelang dari kejauhan. Udara di sekitar desa ini juga cukup sejuk karena banyak pepohonan.


    Desa Takpala akan menyuguhkan kepada Anda budaya memukau yang sarat tradisi dan upacara adat. Di tempat ini perayaan hidup masyarakatnya dituangkan dalam gerak dan musik yang menyatu dalam keseharian hidup mereka. Menyaksikan tarian lego-lego adalah atraksi yang wajib disimak. Tarian ini dilakukan sekira 20 orang (laki-laki dan wanita) dengan bergandengan tangan dan bergerak melingkari mesbah (batu bersusun) yang di atasnya disimpan moko. Tariannya diiringi tetabuhan gong dimana para penari lelaki akan bersyair dan mengenakan perlengkapan adat termasuk senjata. Tari lego-lego adalah kegiatan rutin yang dilakukan bersama, terutama saat panen (jagung), membangun rumah, pernikahan, kelahiran, dan kegiatan adat lainnya.

    Pastikan juga Anda berfoto bersama tetua suku atau anak-anak mereka karena itu akan menjadi kenangan yang dapat Anda pamerkan sepulangnya nanti.

    Informasi lebih lanjut hubungi

    Anda dianjurkan menghubungi Dinas Pariwisata Alor untuk dibantu agar warga Takpala mempersiapkan suguhan tari Lego-lego. Anda dapat menghubungi salah seorang petugas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Alor untuk menjadi penghubung, seperti Bapak Aminudin Mira melalui nomor 082145888385.

    Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten
    Alor Jalan Dr. Soetomo No. 43 Kalabahi, Alor, Nusa Tenggara Timur
    Telp: +62 0386 21160
    Email: disbudpar-alor@yahooo.co.id; informasi@disbudpar-alor.com
    Website: https://www.disbudpar-alor.com

    Sumber: Mobgenic
  • Kampung Cempluk (https://www.seputarmalang.com)

    Kampung Cempluk berada di Dusun Sumberjo RW. 02 Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Dusun yang sangat dekat keberadaannya dengan wilayah Kota Malang, karena merupakan Dusun paling ujung timur Desa Kalisongo.

    Meski berada tak jauh dari pusat kota dan hanya lima menit dari Plasa Dieng, kampung ini baru dialiri listrik pada tahun 1992. Sebelumnya, warga menggunakan cempluk (lampu minyak bersumbu) sebagai alat penerangan, sedangkan di kampung lain sudah menggunakan petromax. Dari sinilah awalnya kampung ini dikenal dengan sebutan Kampung Cempluk.


    Pendidikan dan Pekerjaan

    Kampung Cempluk merupakan daerah yang tertinggal maka warga kampong cempluk memandang pendidikan bukanlah hal penting sehingga rata-rata warga di kampong ini perpendidikan Tamatan Sekolah Dasar bahkan tak jarang yang hanya bias membaca dan menulis (tidak lulus SD). Pekerjaan Warga kampong Cempluk rata-rata yang Laki laki adalah buruh Bangunan sedangkan yang perempuan buruh pabrik. Namun demikian semangat kebersamaannya tidak diragukan lagi dikampung ini yang namanya Azas Kegotong Royongan dan berkesenian sangat tinggi.sehingga tidaklah heran bila di kampung ini tumbuh pesat berbagai kesenian rakyat antara lain Seni Barong singo Yudho, Pancak Silat, musik Perkusi, Jaran Kepang atau kuda lumping, bahkan masih berdirinya sebuah kesenian yang hampir punah yang diberi nama Seni Ande-Ande Lumut.

    Terbentuknya Festival

      Kampung Cempluk Festival (https://www.galacara.com)

    Mengingat demikian kuatnya jiwa berkesenian warga Desa Kalisongo dan banyaknya kegiatan kesenian sebagai cikal bakal kebudayaan daerah, maka dibutuhkan ruang untuk berapresiasi dari setiap komunitas kesenian yang ada.

    Rasa kebersamaan dan kegotongroyongan yang melekat dikehidupan warga Desa Kalisongo melahirkan sebuah wadah berpresiasi bersama yang bisa menampung hasrat para pelaku seni budaya di sana.

    Kampung Cempluk Festival

    Bermodal dana seadanya hasil swadaya warga lahirlah sebuah acara seni budaya yang saat ini dikenal dengan nama Festival Kampung Cempluk.

    Penggagas dari Komunitas Kampung Cempluk ini dimandegani oleh beberapa orang diantaranya : Bapak Priyo Sidhi, Redy Eko Prastyo, Bapak Sulaiman, Bapak Sukadi, serta dibantu saudara Denny Mizar dari Komunitas Pelangi Sastra Malang.

    Kampung Cempluk Festival

    Anggota Kesenian

    • Kesenian Ande-Ande Lumut “Ngudi Lestari Budhoyo“
    • Seni Pencak Silat “Panca Manunggal“
    • Kuda Lumping “Turonggo Joyo Mulyo“
    • Kesenian Perkusi kontemporer “Garuda Putih“
    • Rumah Budhaya Cempluk “Sanggar Klampis Ireng“

    Jenis Kegiatan

    1. Kegiatan Reguler Tahunan : Berupa Festifal Kampung Cempluk yang dilaksanakan setiap tahun sedah berjalan 3 tahun kegiatan berbentuk Pekan Budhaya dan Pasar Rakyat.
    2. Pasar Kampung Cempluk yang dilaksanakan setiap Hari Minggu
    3. Pelatihan dan Kegiatan Sanggar Budhaya dilakukan di Rumah Budhaya Cempluk.
    4. Kerja sama Bidang Kesenian dan Budhaya dengan Sanggar Lain telah dilaksanakan setiap Bulan sekali.
    5. Tukar informasi dengan daerah lain (Studi Banding)

    Informasi lebih lanjut hubungi


    Kampung Budaya Cempluk 
    Jl. Dieng Atas, RT. 04/RW. 02, Dusun Sumberjo, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur
    Website: https://www.kampungcempluk.com
    Twitter : @kampungcempluk 
    https://id-id.facebook.com/pages/Kampung-Cempluk/261739060504428

  • Kampung Budaya Gabus terletak di Desa Gabus, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Gabus sebagai kampung kantung kesenian di bagian selatan Kota Pati diharapkan dapat menjadi ruang alternatif baru sebagai kantung kesenian di wilayah Pesisir yang kadang terpinggirkan oleh pusat pusat budaya arus besar.

    Upaya membentuk kawasan yang menjadi kantung budaya, seperti yang dilakukan pengiat kesenian di Gabus, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, membutuhkan sebuah proses. Itu pula yang coba diletupkan melalui pagelaran Festival Pasar Gabus.


    Pagelaran yang dilangsungkan pada 9 Oktober dan 10 Oktober 2010 di Desa Gabus, Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah itu mendapatkan wadah dengan masa hajatan kaum agraris di Tanah Jawa yang biasa disebut Sedekah Bumi. Ekspresi rasa syukur masyarakat desa atas hasil panen dan hasil kerja selama setahun, serta lantunan doa dan harapan akan hari esok yang lebih baik. Kegiatan Sedekah Bumi yang biasa dilakukan di setiap bulan Apit pada penanggalan Jawa.

    Kemudian masyarakat Desa Gabus mendirikan Paguyuban Sedulur Asih di Gabus pada hari Sabtu tanggal 19 Mei 2012 oleh warga Gabus yang memiliki pandangan yang sama untuk memajukan Desa Gabus melalui pendekatan budaya.

    Adapun kelompok penggiat seni budaya yang ada di Desa Gabus antara lain :

    Wisata Musik

    Gagego Musik Kampung


    Keroncong Pesona Gambuse


    Wisata Seni Budaya 

    Teater Gong 


    Sanggar Tari Widyas Budoyo


    Layar Tancep 
    Wayang Tutur 


    Barongsai 


    Sedekah Bumi 


    Festival Pasar Gabus


    Informasi lebih lanjut hubungi

    Kampung Budaya Gabus
    Alamat Sekretariat : Desa Gabus RT. 5 RW. 5, Jalan Raya Gabus, Pati (Utara SPBU Gabus), Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah.
    Telp: +62 813 2624 9016 (Bp. Timbul Hadiyanto)
    Website: https://gabuskampungbudaya.blogspot.com

Comments

The Visitors says