PESONA WISATA INDONESIA

welcome to our blog



in a way, articles can also be described as a type of adjectives as they also tell us something about the nouns, like adjectives.

Articles are found in many Indo-European, Semitic, and Polynesian languages but formally are absent from some large languages of the world, such as Indonesian, Japanese, Hindi and Russian.

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

    Posted by: guru ppkn cerdas Posted date: November 10, 2014 / comment : 0


    Sebelum banyak dijumpai ember seperti sekarang ini, pada zaman dahulu setidaknya sampai sebelum Kemerdekaan, masyarakat Jawa masih banyak menggunakan klenthing sebagai tempat air sementara. Klenthing dipakai tidak hanya oleh masyarakat Jawa saja, tetapi juga banyak ditemukan di masyarakat lain.

    Masyarakat Jawa menggunakan klenthing untuk mengambil air dari sumber air, seperti sumur, belik, pancuran, telaga, sendang, dan sebagainya. Klenthing ada yang berukuran kecil dan besar. Dalam Kamus Jawa “Baoesastra Djawa” karangan WJS Poerwadarminta (1939), klenthing biasanya berukuran kecil, sementara jun berukuran besar. Memang tidak dijelaskan secara rinci, ukuran kecil dan besarnya.

    Sayangnya, dewasa ini sangat sulit mendapatkan alat dapur satu ini. Bahkan ketika Tembi survei ke beberapa museum budaya di Yogyakarta, tidak ditemukan alat dapur klenthing. Padahal, alat ini sudah biasa digunakan oleh nenek moyang masyarakat Jawa. Bahkan sering ditemukan artefak di situs-situs cagar budaya. Bahkan ada pula cerita tentang tokoh Klenthing Kuning di zaman kerajaan Jenggala-Daha-Kediri, sebelum kerajaan Majapahit berdiri.

    Tentu saja sejak kehadiran ember klenthing sudah tidak dipakai lagi. Sebab masyarakat sekarang sudah tidak perlu mengambil air ke mata air yang jauh dari rumah. Apalagi klenthing mudah pecah, berat, dan kurang praktis, sehingga dengan cepat ditinggalkan masyarakat.

    Tembi pernah menjumpai alat dapur klenthing ini di penjual gerabah, salah satunya di alun-alun Kadipaten Pakualaman Yogyakarta. Di tempat ini dijumpai klenthing berukuran besar dengan diameter bagian tengah sekitar 30 cm. Sementara bagian mulut lubangnya kecil. Sama seperti kendhi, pada klenthing ini juga memiliki bagian leher, tempat lengan mengapitnya. Memang kadang-kadang leher klenthing ada yang agak panjang, ada pula yang agak pendek. Ukuran ini tergantung pada selera para pembuatnya.

    Harga sebuah klenthing ukuran besar Rp 35.000, sementara ukuran kecil Rp 20.000. Klenthing ini dibuat dari tanah liat, seperti alat rumah tangga lain yang terbuat dari gerabah, seperti kendhil, kuwali, layah, dan sebagainya. Pengerjaannya juga sama, diawali dari tanah lempung, kemudian dibentuk, dijemur, dan dibakar. Maka ketika sudah dipasarkan, warnanya kemerah-merahan.

    Sumber: Tembi

    Tagged with:

    Next
    Newer Post
    Previous
    Older Post

    No comments:

    Leave a Reply

Comments

The Visitors says