PESONA WISATA INDONESIA

welcome to our blog



in a way, articles can also be described as a type of adjectives as they also tell us something about the nouns, like adjectives.

Articles are found in many Indo-European, Semitic, and Polynesian languages but formally are absent from some large languages of the world, such as Indonesian, Japanese, Hindi and Russian.

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

    Posted by: guru ppkn cerdas Posted date: September 02, 2013 / comment : 0


    Pada abad ke-7 sampai dengan awal abad ke-8, di Jawa Tengah terdapat sebuah kerajaan Hindu bernama Kalingga. Pada akhir paruh pertama abad ke-8, diperkirakan th. 732 M, Raja Sanjaya mengubah nama Kalingga menjadi Mataram. Selanjutnya Mataram diperintah oleh keturunan Sanjaya (Wangsa Sanjaya). Selama masa pemerintahan Raja Sanjaya, diperkirakan telah dibangun Candi-Candi Syiwa di pegunungan Dieng.

    Pada akhir masa pemerintahan Raja Sanjaya, datanglah Raja Syailendra yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya (di Palembang) yang berhasil menguasai wilayah selatan di Jawa Tengah. Kekuasaan Mataram Hindu terdesak ke wilayah utara Jawa Tengah.

    Pemerintahan Raja Syailendra yang beragama Buddha ini dilanjutkan oleh keturunannya, Wangsa Syailendra. Dengan demikian, selama kurang lebih satu abad, yaitu tahun 750-850 M, Jawa Tengah dikuasai oleh dua pemerintahan, yaitu pemerintahan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan Wangsa Syailendra yang menganut agama Buddha Mahayana. Pada masa inilah sebagian besar candi di Jawa Tengah dibangun. Oleh karena itu, candi-candi di Jawa Tengah bagian Utara pada umumnya adalah candi-candi Hindu, sedangkan di wilayah selatan adalah candi-candi Buddha. Kedua Wangsa yang berkuasa di Jawa Tengah tersebut akhirnya dipersatukan melalui pernikahan Rakai Pikatan (838 - 851 M) dengan Pramodawardhani, Putra Maharaja Samarattungga dari Wangsa Syailendra.

    Candi di Jawa Tengah umumnya menghadap ke Timur, dibangun menggunakan batu andesit. Bangunan candi umumnya bertubuh tambun dan terletak di tengah pelataran. Di antara kaki dan tubuh candi terdapat selasar yang cukup lebar, yang berfungsi sebagai tempat melakukan ‘pradaksina’. Di atas ambang pintu ruangan dan relung terdapat hiasan kepala Kala (Kalamakara) tanpa rahang bawah. Bentuk atap candi di Jawa tengah umumnya melebar dengan puncak berbentuk ratna atau stupa. Keterulangan bentuk pada atap tampak dengan jelas.

    Di samping letak dan bentuk bangunannya, candi Jawa tengah mempunyai ciri khas dalam hal reliefnya, yaitu pahatannya dalam, objek dalam relief digambarkan secara naturalis dengan tokoh yang mengadap ke depan. Batas antara satu adegan dengan adegan lain tidak tampak nyata dan terdapat bidang yang dibiarkan kosong. Pohon Kalpataru yang dianggap sebagai pohon suci yang tumbuh ke luar dari objek berbentuk bulat banyak didapati di candi-candi Jawa Tengah.

    Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta jumlahnya mencapai puluhan, umumnya pembangunannya mempunyai kaitan erat dengan Kerajaan Mataram Hindu, baik di bawah pemerintahan Wangsa Sanjaya maupun Wangsa Syailendra, antara lain :

      1. Candi Gedong Sanga, Semarang, Jawa Tengah
      2. Candi Pringapus, Temanggung, Jawa Tengah
      3. Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah
      4. Candi Pawon, Magelang, Jawa Tengah
      5. Candi Lumbung Sengi, Magelang, Jawa Tengah
      6. Candi Mendut, Magelang, Jawa Tengah
      7. Candi Bubrah, Klaten, Jawa Tengah
      8. Candi Plaosan, Klaten, Jawa Tengah
      9. Candi Sewu, Klaten, Jawa Tengah
    10. Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah
    11. Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah
    12. Candi Barong, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
    13. Candi Banyunibo, Sleman, DIY
    14. Candi Gebang, Sleman, DIY
    15. Candi Ijo, Sleman, DIY
    16. Candi Kedulan, Sleman, DIY
    17. Candi Sambisari, Sleman, DIY
    18. Candi Sari, Sleman, DIY
    19. Candi Kalasan, Sleman, DIY
    20. Candi Prambanan, Sleman, DIY
    21. Candi Ratu Boko, Sleman, DIY

    Belum semua candi dimuat dalam situs web ini. Masih banyak candi, terutama candi-candi kecil yang belum terliput, di antaranya: Abang, Asu Sengi, Bogem, Bugisan, Candireja, Dawungsari, Dengok, Gampingan, Gatak, Gondang, Gua Sentana, Gunungsari, Gunungwukir (Canggal), Ijo, Kelurak, Klero, Marundan, Merak, Miri, Morangan, Muncul, Ngawen, Payak, Pendem, Ngempon, Retno, Sakaliman, SelogriyoSojiwan, Umbul dan Watugudig.

    Sumber: PNRI

    Tagged with:

    Next
    Newer Post
    Previous
    Older Post

    No comments:

    Leave a Reply

Comments

The Visitors says