PESONA WISATA INDONESIA

welcome to our blog



in a way, articles can also be described as a type of adjectives as they also tell us something about the nouns, like adjectives.

Articles are found in many Indo-European, Semitic, and Polynesian languages but formally are absent from some large languages of the world, such as Indonesian, Japanese, Hindi and Russian.

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

    Posted by: guru ppkn cerdas Posted date: February 09, 2015 / comment : 0

    Kedua mempelai menggunakan Pakaian Pengantin (https://www.weddingku.com)

    Seperti halnya di daerah-daerah lain di Indonesia yang mempunyai banyak tahapan sebelum seseorang benar-benar resmi menjadi suami istri maka di Aceh pun demikian pula adanya. Sebelum mempelai resmi menjadi suami istri haruslah terlebih dahulu melewati beberapa prosesi adat yang lumayan panjang.

    Ada beberapa tahapan dalam upacara perkawinan Aceh sejak persiapan hingga setelah perkawinan. Tahapan-tahapan tersebut mempunyai tata cara masing-masing. Menurut Cut Intan Elly Arby (1989: 5-6), beberapa tahap perkawinan adat Aceh adalah:

    Persiapan Menuju Perkawinan

    a. Jak Keumalen

    Artinya mencari calon istri/suami. Jak Keumalen dilakukan melalui dua cara. Pertama, dilakukan langsung oleh orangtua laki-laki; atau, kedua, dilakukan oleh utusan khusus. Maksud Jak Keumalen ialah menjajaki kehidupan keluarga calon pengantin. Biasanya beberapa orang dari pihak mempelai pria datang bersilaturahmi sambil memperhatikan calon mempelai perempuan, suasana rumah, dan perilaku keluarga tersebut.

    Setelah kunjungan, keluarga calon mempelai pria bertanya kepada pihak orangtua perempuan, apakah putrinya sudah mempunyai calon suami. Bila sambutannya baik dan jawaban “ya”, tahapan selanjutnya adalah Jak Ba Ranub. Jak Keumalen dilakukan karena pada silam hubungan laki-laki dan perempuan adalah tabu. Selain peran orang tua yang begitu dominan terhadap anak, termasuk urusan jodoh.

    b. Jak Ba Ranub

    Setelah melewati tahap Jak Keumalen, berikutnya adalah upacara Jak Ba Ranub atau upacara meminang calon pasangan. Dalam acara ini, orangtua linto baro (calon mempelai pria) mengirim utusan untuk membawa sirih, kue, dan lain-lain ke keluarga dara baro. Melalui utusan tersebut, keluarga linto baro mengungkapkan maksud mereka pada dara baro (calon mempelai wanita). Bila ia menerima, keluarga dara baro kemudian melakukan musyawarah. Bila seluruh keluarga menyetujui, proses selanjutnya adalah Jak Ba Tanda. Tapi, kalau ternyata keluarga dara baro tidak setuju, keluarga dara baro akan menjawab dengan alasan dan cara yang baik.

    c. Jak Ba Tanda

    Jak Ba Tanda adalah upacara memperkuat tanda jadi. Pihak calon pengantin laki-laki akan membawa sirih lengkap dengan makanan kaleng, seperangkat pakaian yang disebut lapek tanda, dan perhiasan emas. Barang-barang tersebut ditaruh dalam “talam” atau “dalong” yang dihias sedemikian rupa. Di rumah dara baro, talam tersebut dikosongkan kemudian diisi kue-kue sebagai balasan dari keluarga dara baro.

    Pembahasan mas kawin (jeulamei), uang hangus (peng angoh), rencana hari dan tanggal pernikahan, serta jumlah undangan dan jumlah rombongan pihak pengantin laki-laki dilakukan pada upacara ini.

    Upacara Menjelang Perkawinan

    Sebelum pesta perkawinan dilangsungkan, ada beberapa upacara yang mendahuluinya, di antaranya:

    a. Malam peugaca

    Adalah malam menjelang upacara pesta pernikahan (meukerejia). Pada malam peugaca inilah biasanya upacara keselamatan (peusijuk) untuk kedua mempelai. Upacara ini biasanya dilakukan di malam hari selama 3 hingga 7 hari. Busana yang dikenakan calon pengantin perempuan tidak ditentukan.

    Upacara keselamatan pada malam peugaca disebut peusijuk gaca. Upacara ini dipimpin oleh sesepuh adat (nek maja), dan dimulai oleh ibu calon pengantin perempuan, kemudian dilanjutkan keluarga terdekat. Upacara ini dilaksanakan pagi hari, dengan harapan agar kehidupan kedua mempelai kelak terus meningkat dan mudah mendapatkan rezeki. Selain itu, makna dari upacara peusijuk adalah bentuk permohonan kepada Allah agar kedua mempelai hidup bahagia di dunia dan akhirat.

    b. Memotong atau Meratakan Gigi (Koh Gilo)

    Saat ini upacara Koh Gilo sudah jarang dilakukan sebab kesadaran masyarakat akan bahaya pengikiran gigi semakin meningkat. Pada zaman dahulu, menjelang pernikahan gigi calon pengantin wanita harus diratakan dengan alat pengikir gigi. Upacara ini dilaksanakan setidaknya 7 hari sebelum upacara pesta perkawinan dilaksanakan.

    Menurut penilaian orang zaman dulu, pemotongan gigi ini akan membuat kesan lebih cantik pada calon pengantin perempuan. Selain itu, sebagai tanda bahwa perempuan itu sudah bersuami.

    c. Memotong Rambut Halus Bagian Dahi (Koh Andam)

    Adalah upacara memotong bulu-bulu halus di bagian wajah dan kuduk dara baro agar kelihatan lebih bersih. Upacara ini mengandung makna menghilangkan hal-hal yang kurang baik pada masa lalu dan menggantikannya dengan hal-hal yang baik pada masa yang akan datang.

    Upacara Koh Andam dilakukan ketika perempuan dara baro dalam keadaan suci (sedang tidak haid). Bulu dan rambut yang telah dicukur tadi dimasukkan ke dalam kelapa gading atau kelapa hijau yang diukir dan masih ada airnya. Kelapa ukiran yang berisi rambut tadi ditanam di bawah pohon rindang. Ini mengandung harapan agar mempelai perempuan selalu tegar dan berpikiran tenang ketika menghadapi masalah.

    d. Upacara Peumano

    Peumano Dara Baro artinya memandikan calon mempelai perempuan. Sebelum masuk pada Upacara peumano, biasanya juga dilakukan peusijuk. Upacara peumano mengandung makna bahwa calon dara baro sudah dirawat agar badannya bersih dan kulitnya halus. Namun, upacara ini bukan hanya untuk mempelai perempuan saja. Calon pengantin laki-laki juga menjalani Upacara peumano.

    Calon mempelai, baik perempuan maupun laki-laki, dimandikan oleh orangtua mereka, tetua adat yang taat, dan beberapa keluarga terdekat. Jumlah mereka harus ganjil. Selama upacara, calon pengantin dibacakan doa-doa agar menjelang perkawinan mereka dalam keadaan suci lahir dan batin. Dalam upacara itu, mempelai dipayungi dan diarak menuju pemandian. Para pengiring membaca shalawat dan kadang-kadang diselingi lantunan syair. Syair tersebut merupakan sanjungan kepada keluarga atau nasihat bagi mempelai.

    Upacara Peumano

    Pada zaman dulu, Upacara Peumano mempunyai makna yang sakral, sehingga upacara itu dilaksanakan dengan khidmat. Pada saat itu, upacara ini hanya dilakukan oleh kaum bangsawan, dan hanya diikuti oleh keluarga terdekat. Tata cara pelaksanaan upacara ini berbeda antara daerah satu dengan daerah yang lain. Perkembangan tersebut terlihat misalnya pada penambahan tarian dari daerah Aceh Barat, yaitu tarian Pho.

    Di atas telah disinggung mengenai syair yang dibawakan pada waktu Upacara Peumano. Berikut adalah contoh syair yang dilantunkan pada waktu upacara itu:

    Treun tajak manoe
    Dara Baro treun


    Oh lheuh manoe
    Lakee seu naleu
    Iya nyang la en
    Seunalen manoe

    Wahe putroe aneuk metuah
    Gata lon seurah
    Ta tinggai po ma

    Meunyo tajak
    Bek tuwor kamo
    Trep-trep beutawo
    Tajingeuk po ma

    Artinya:

    Turunlah kita mandi
    Mempelai putri turunlah
    Kita pergi mandi

    Sesudah mandi
    Minta salinan
    Kain yang lain
    Salinan mandi

    Wahai putri Ananda yang beruntung
    Dikau kuserahkan
    Meninggalkan Bunda
    Kalau pergi
    Jangan lupakan kami
    Sekali-kali pulanglah
    Melihat Bunda

    e. Khatam Qu’an

    Upacara ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa perempuan calon pengantin adalah orang yang shalihah. Upacara Khatam Qu’an ini menjadi bukti betapa kuat agama Islam mewarnai kebudayaan Aceh. Bagi masyarakat Aceh, agama merupakan faktor penting dalam jodoh dan perkawinan.

    Upacara ini dipimpin oleh seorang guru ngaji setempat. Pelaksanaan upacara diawali dengan pembacaan doa-doa keselamatan. Sebelum membaca ayat terakhir dalam Qur’an, pengantin perempuan disuapi ketan dan tumpo yang telah tersedia. Setelah upacara selesai, calon dara baro menyalami dan mengucapkan terima kasih serta meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan. Pada kesempatan itu, ia juga meminta restu kepada guru ngajinya. Setelah semua proses upacara dengan guru ngaji selesai, dilanjutkan Upacara Khatan Qur’an di hadapan orangtua dan keluarga terdekat. Calon pengantin perempuan didampingi sang guru ngaji.

    Setelah acara selesai, keluarga akan menyerahkan telur, bereteh, beras, padi, dan uang sekadarnya kepada guru ngaji. Ini merupakan wujud terima kasih dari calon mempelai atas ilmu yang telah diberikan oleh guru ngaji.

    Pelaksanaan Perkawinan

    Setelah berbagai upacara menjelang perkawinan selesai, pasangan pengantin akan memasuki acara inti perkawinan yang disebut wo linto.

    Inilah puncak acara yang dinanti-nantikan. Ini adalah upacara mengantarkan linto baro ke rumah orangtua dara baro. Pada saat pelaksanaan upacara ini, dara baro sudah siap dengan pakaian pengantin.

    Mempelai perempuan dibimbing oleh dua pendamping di kanan dan kiri yang disebut peunganjo. Ketiganya berjalan menghadap kedua orangtua untuk sungkem (semah ureung chik), kemudian peunganjo membimbing dara baro ke pelaminan untuk menunggu kedatangan linto baro dan rombongan.

    Linto baro melakukan hal yang sama dengan dara baro. Setelah memakai busana pengantin, ia akan melakukan sungkem kepada kedua orangtuanya untuk meminta doa restu. Setelah melakukan sungkem linto baro berangkat ke rumah dara baro bersama rombongan pengantar mempelai pria (peutren linto).

    Selama perjalanan menuju rumah dara baro, rombongan melantunkan shalawat. Pihak keluarga dara baro akan menjemput iring-iringan pengantin pria kira-kira 500 meter dari rumah dara baro. Setelah kedua mempelai dan rombongannya bertemu, pihak linto baro dan dara baro akan berbalas pantun (seumapa). Jika pihak linto baro kalah dalam berbalas pantun tersebut, maka acara tidak dapat dilanjutkan. Tapi, kalau pihak linto baro menang, maka dilanjutkan dengan upacara tukar-menukar sirih oleh kedua orangtua dari pihak pengantin laki-laki dan perempuan.

    Rombongan pengantin pria yang membawa sirih dan perlengkapannya saat menuju ke kediaman pengantin wanita (https://www.wego.co.id)

    Setelah memasuki pintu gerbang, linto baro diserahkan kepada orang tua adat dari pihak dara baro. Mempelai laki-laki dipayungi oleh satu atau dua pemuda dari pihak dara baro dan mereka akan beriringan menuju rumah dara baro. Sebelum masuk rumah, linto baro dibimbing pendamping (peunganjo) untuk membasuh kaki. Hal ini bermakna, untuk memasuki jenjang rumah tangga harus suci lahir dan batin.

    Sementara dara baro sudah duduk menanti di pelaminan. Ia kemudian dibimbing seorang ibu pendamping (peunganjo) untuk menyambut linto baro dan melakukan sungkem kepada mempelai pria. Ini merupakan tanda hormat dan pengabdian. Linto baro menerima sambutan dara baro dengan penuh kasih sayang, lalu menggenggam tangan dara baro sambil menyelipkan amplop yang berisi uang yang melambangkan tanggung jawab untuk menafkahi sang istri.

    Pasangan pengantin meminta doa restu kepada orangtua

    Setelah itu, kedua mempelai disandingkan sebentar di pelaminan sebelum dibimbing menuju suatu tempat khusus untuk bersujud kepada kedua orangtua mempelai. Prosesi dimulai dari dara baro bersujud kepada orangtua kemudian kepada kedua mertua. Linto baro mengikuti apa yang dilakukan mempelai wanita. Lalu mereka dibimbing ke pelaminan untuk di-peusijuek oleh keluarga. Mulai dari keluarga linto baro yang memberikan uang dan barang berharga lainnya. Begitu juga sebaliknya. Jumlah anggota keluarga yang melakukan peusijuek tidak boleh genap.

      
    Prosesi Aqad Nikah (https://www.lamurionline.com)

    Setelah pelaksanaan upacara selesai, linto baro langsung pulang ke rumahnya. Setelah hari ke tiga atau ke tujuh barulah linto baro diantar kembali ke rumah dara baro untuk melaksanakan upacara hari ketiga (peulhe) atau ketujuh (peutujoh). Upacara ini diawali dengan penanaman bibit kelapa yang dilakukan oleh woe linto bersama dara baro. Selanjutnya, linto baro melakukan sujud kepada mertua dan diberi pakaian ganti, cincin emas, dan lain-lain.

    Pihak woe into juga membawa beberapa perangkat untuk dara baro yang berupa makanan kaleng, kopi, teh, susu, dan berbagai perlengkapan dapur yang lain. Selain itu, juga membawa beberapa bibit tanaman seperti bibit kelapa, bibit tebu, dan sebagainya sesuai kemampuan keluarga wo linto.

    Upacara Setelah Perkawinan

    Setelah perkawinan masih ada serangkaian upacara, yaitu Tueng Dara Baro. Upacara Tueng Dara Baro merupakan upacara untuk mengundang dara baro beserta rombongannya ke rumah mertua. Upacara ini dilaksanakan pada tujuh hari setelah upacara wo linto. Pada waktu upacara ini, dara baro diarak menuju rumah pengantin laki-laki dengan didampingi dua pengunganjo. Rombongan pengantin perempuan ini juga membawa makanan dan kue-kue. Cara penyambutan upacara ini hampir sama dengan upacara wo linto, tapi tanpa prosesi berbalas pantun dan cuci kaki.

    Sampai di pintu masuk, rombongan akan disambut keluarga laki-laki. Orangtua kedua belah pihak kemudian melakukan tukar-menukar sirih. Di pintu masuk rumah, rombongan ditaburi beras (breuh padi), bunga rampai, dan daun-daun sebagai tepung tawar (on seunijuk). Setelah dara baro duduk di tempat yang telah disediakan, ibu linto baro melakukan tepung tawar yang dilanjutkan dara baro bersujud kepada orangtua linto baro. Orangtua linto baro kemudian menyerahkan perhiasan yang ditaruh di dalam air kembang dalam suatu wadah khusus.

    Pada upacara ini, dara baro menginap di rumah orangtua linto baro selama tujuh hari dengan ditemani oleh satu atau dua peunganjo. Tujuh hari kemudian, barulah dara baro diantar pulang. Dara baro juga dibekali dengan beberapa perangkat pakaian, bahan makanan, dan uang. Di rumah orangtua dara baro rombongan disambut dengan upacara jamuan makan bersama yang menandai berakhirnya seluruh rangkaian upacara

    Upacara Tueng Dara Baro

    Sumber: Melayuonline

    Tagged with:

    Next
    Newer Post
    Previous
    Older Post

    No comments:

    Leave a Reply

Comments

The Visitors says