PESONA WISATA INDONESIA

welcome to our blog



in a way, articles can also be described as a type of adjectives as they also tell us something about the nouns, like adjectives.

Articles are found in many Indo-European, Semitic, and Polynesian languages but formally are absent from some large languages of the world, such as Indonesian, Japanese, Hindi and Russian.

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

    Posted by: guru ppkn cerdas Posted date: February 06, 2015 / comment : 0


    Masjid Raya Sulaimaniyah terletak di Desa Kota Galuh, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

    Masjid Raya Sulaimaniyah didirikan oleh Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah pada tahun 1894, seiring dengan dipindahkannya ibukota kesultanan Serdang dari Rantau Panjang (sekarang berada di Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang) ke Istana kota Galuh Perbaungan (dulu Serdang). Nama masjid ini sendiri dinisbatkan kepada Sultan Sulaiman, yang membangunnya. Selain di Kota Galuh Perbaungan, Sultan Sulaiman juga membangun masjid dengan nama yang sama di Pantai Cermin pada tahun 1901 dan sama sama masih eksis hingga kini.


    Setiap orang yang melintas dari arah Medan menuju Tebing Tinggi atau sebaliknya, akan melewati mesjid ini. Setiap harinya, masjid ini menjadi tempat persinggahan musafir yang ingin melaksanakan sholat sambil berwisata rohani untuk melihat dari dekat mesjid peninggalan Sultan Serdang ini. Bahkan setiap sholat Jumat, masjid ini nyaris tidak bisa menampung jamaah yang hampir melewati teras masjid.

    Arsitektur


    Bangunan Masjid Raya Sulaimaniyah ini tidak terlalu menonjol, mirip dengan bangunan-bangunan khas melayu lainnya. Sepintas lalu masjid ini terkesan biasa-biasa saja bahkan tak tampak seperti sebuah masjid. Namun masjid ini memiliki keunikan tersendiri. Sepintas tidak seperti bangunan masjid, melainkan seperti kantor pemerintahan dengan corak khas adat budaya melayu dengan figura berwarna kuning dengan atap berwarna hijau. Sedangkan bangunan menara dibangun terpisah dari masjid dan memang dibangun belakangan.

    Atap


    Yang menjadi ciri khas adalah pada bangun atapnya yang dibuat berundak-undak, keseluruhan atap masjid ini hingga bersusun empat dihitung dari atap tertinggi hingga atap pada terasnya. Atap beranda masjid pun dibuat bersusun dua. Atap bangunan utama masjid ini dibangun begitu tinggi dibandingkan atap lainnya seakan akan juga berfungsi sebagai menara. Bila atap masjid masjid tua Indonesia lainnya kebanyakan berdenah segi empat bujur sangkar, atap masjid Raya Sulaimaniyah justru berbentuk persegi panjang sama dengan denah masjidnya.

    Ruang Utama

    Mihrab, Mimbar dan Lampu hias (https://www.medanwisata.com)

    Di dalam masjid terdapat empat pilar beton berukuran besar sebagai penyanggah bangunan dengan 1 lampu hias berada di tengah-tengah bundaran langit masjid dikelilingi kaligrafi dari ayat-ayat alquran tentang sholat. Kesan dan nafas melayu sangat kental terlihat dari mimbarnya yang berwarna kuning dengan 4 anak tangga berlapis karpet hijau serta di atas mimbar terdapat kubah yang atasnya juga menggunakan lambang bulan sabit dan bintang.

    Teras

    Menara dan teras (https://www.medanwisata.com)

    Teras masjid yang sudah berlantai keramik ini ditopang dengan tiang-tiang berukuran kecil serta puluhan lampu kecil dan besar yang mengelilingi teras samping kiri dan belakang serta dilengkapi dengan toilet dan tempat berwudhu.

    Pemakaman

    Pemakaman Sultan Sulaiman, keluarga dan pejabat penting Kesultanan (https://www.medanwisata.com)

    Sebagai masjid kesultanan Masjid Raya Sulaimaniyah menjadi masjid utama bagi semua kegiatan kesultanan termasuk tempat penyelenggaraan sholat jenazah bagi Sultan dan keluarganya. Di samping masjid ini juga menjadi tempat pemakaman sultan Serdang Sulaiman Syariful Alamsyah dan keluarganya yang terletak tepat di depan masjid yang telah di pagar serta pejabat-pejabat penting kesultanan.

    Petinggi kesultanan Serdang terahir yang disemayamkan di Masjid ini adalah jenazah Alamarhum Tengku Lukman Sinar Basarsyah II, Pemangku Adat Kesultan Serdang, sejarawan Melayu yang juga menjabat Ketua Forum Komunikasi Antaradat Sumut. Beliau wafat di Malaysia, hari Kamis pukul 19.50 waktu Malaysia. Setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Sime Darby Medical Center, Subang Jaya, Malaysia.

    Perbaikan

    Dari catatan sejarah yang tertulis itu, dapat juga diketahui bahwa Masjid Raya Sulaimaniyah telah mengalami beberapa renovasi, yaitu tahun 1964, 1967, dan tahun 2004 (selesai tahun 2005). Beberapa renovasi tersebut atas bantuan mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri, Gubernur Sumatera Utara (alm) Rizal Nurdin dan Sekjen Departemen Kesehatan RI Dr. Safii Ahmad MPH.

    Sumber: Bujangmasjid

    Tagged with:

    Next
    Newer Post
    Previous
    Older Post

    No comments:

    Leave a Reply

Comments

The Visitors says